Balikpapan, Medianasional.id – Gereja Bethany Nusantara (GBN) resmi menggelar Sidang Raya Sinode (SR) Pertama di kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Bertempat di GBN Favor of God Living Plaza Balikpapan, momentum bersejarah ini menjadi tonggak awal bagi arah strategis dan pelayanan gereja di seluruh Nusantara bahkan ke mancanegara.
Acara ini diawali dengan ibadah pembukaan yang dipimpin oleh Ketua Majelis Pertimbangan PGLII, Pdt. Dr. Ronny Mandang. Dalam kotbahnya, ia menekankan pentingnya gereja untuk kembali pada jati dirinya—menjadi terang dunia dengan memberitakan Injil Kristus dan menuntaskan Amanat Agung.
Prosesi pembukaan semakin semarak dengan penampilan tarian tradisional Dayak oleh lima mahasiswi Institut Kristen Borneo, menandakan kekayaan budaya lokal yang menyatu dengan semangat rohani nasional.
128 Pendeta dari 109 Gereja Hadir
Sidang Raya Perdana ini diikuti oleh 128 pendeta dari 109 gereja yang tersebar di 12 provinsi di Indonesia serta perwakilan dari luar negeri seperti Malaysia, Amerika Serikat, dan Selandia Baru. Tema yang diusung dalam sidang raya ini adalah:
“The Great Harvest From Nusantara to the Nations” (Tuaian Besar dari Nusantara ke Bangsa-bangsa).
Ketua Umum Sinode GBN, Pdt. Dr. Samuel Kusuma, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya sidang raya perdana ini. Ia menegaskan bahwa momentum ini bukan sekadar kegiatan administratif, melainkan tonggak sejarah baru pelayanan GBN dari bagian Ibu Kota Nusantara (IKN) untuk seluruh Indonesia dan dunia.
“Sidang Raya ini adalah momen strategis untuk menetapkan arah dan strategi pelayanan ke depan, memastikan GBN terus bertumbuh dalam iman dan menjadi berkat bagi bangsa,” tegasnya.
Pemerintah Dukung GBN Jadi Pilar Spiritual dan Sosial
Sidang Raya I Sinode GBN secara resmi dibuka oleh Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI, Jeane Marie Tulung, yang diwakili oleh Direktur Urusan Agama Kristen, Amsal Yowei.
Dalam sambutannya, Amsal Yowei menyampaikan bahwa SR GBN bukan sekadar forum organisatoris, tetapi juga panggilan rohani untuk meletakkan dasar gereja yang kokoh di atas Kristus sebagai satu-satunya fondasi sejati (1 Korintus 3:11).
“Pondasi itu bukan hanya spiritual, tapi juga tata kelola organisasi yang sehat, kepemimpinan yang melayani, dan program pelayanan yang transformatif, termasuk perhatian terhadap ekologi dengan program penanaman pohon matoa,” tambah Yowei.
Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan ekoteologis, Dirjen Bimas Kristen dan Sinode GBN juga menandatangani MoU penanaman 10 pohon di seluruh gereja anggota GBN di Indonesia.
Disambut Tokoh Nasional dan Daerah
Turut hadir dalam Sidang Raya Perdana ini, Staf Khusus Otorita IKN, Troy Pantaouw, yang memberikan paparan tentang progres pembangunan IKN. Ia menyambut baik peran aktif GBN dalam membangun nilai spiritual di wilayah penyangga ibu kota baru.
Sementara Anggota DPD RI Dapil Kaltim, Dr. Yulianus Henoch Sumual, mengungkapkan rasa syukurnya atas pelaksanaan SR GBN:
“Kami berharap Sidang Raya ini mampu melahirkan keputusan dan karya yang mendukung kemajuan gereja dan pembangunan bangsa dari sisi rohani,” ujar Henoch.
Ketua Umum PGLII, Pdt. Tommy Lengkong, M.Th, menambahkan bahwa GBN kini menjadi anggota ke-98 PGLII, dan keberadaannya turut menyukseskan pelaksanaan MUNAS PGLII XIII yang sebelumnya juga digelar di Balikpapan.
Agenda Strategis dan Semangat Persatuan
Selama dua hari (30–31 Mei 2025), SR Sinode GBN akan membahas program kerja sinode, pemilihan pengurus, serta merumuskan kebijakan strategis pelayanan. Semua keputusan diharapkan dibangun di atas dasar iman dan visi Kristus untuk kemuliaan Tuhan semata.
Sidang Raya ini juga menampilkan semangat kebersamaan dan kesatuan dalam keluarga besar GBN, dengan kehadiran lengkap seluruh pimpinan dan utusan gereja dari berbagai wilayah.
Sebagai penutup, pukul gong secara simbolis menandai dimulainya Sidang Raya I Sinode GBN, disertai harapan besar agar gereja ini dapat menjadi terang dari Nusantara untuk segala bangsa.






