Bagi Jelma Lampung, Kapal Jung memiliki filosofi sebagai Bahtera Kehidupan yang mengantarkan manusia dari Alam Ruh/Alam Azali menuju ke Alam Dunia/Alam Fana dan kemudian dari Alam Dunia/Alam Fana menuju ke Alam Akhirat/Alam Baka. Kapal Jung juga memiliki filosofi berlayarnya insan dari Gelap menuju Cahaya, dari Ketiadaan menuju Keberadaan, dari Kefanaan menuju Keabadian dan dari Kenisbian menuju Kesejatian.
Masyarakat Adat Lampung sendiri memiliki beragam jenis Budaya Wastra merupakan produk kebudayaan yang menjadi lokal genius bagi Rumpun Pesagi Seminung dengan sebarannya di Provinsi Sumsel, Provinsi Lampung, selatan Bengkulu hingga Cikoneng dipantai barat Banten. Beberapa wastra tradisional Rumpun Pesagi Seminung adalah Buppak/Rumpak merupakan tipikal dan prototipe dari kain songket, kemudian Tapis yakni wastra Lampung yang identik dengan benang emas, Pelepai/Nampan merupakan kain bagi kepentingan adat dengan filosofi bermotif Kapal Jung juga idiom idiom hayati, kemudian dikenal juga Kain Sebagi yaitu sejenis batik dalam terminologi Jelma Lampung.
Motif Kapal Jung merupakan salah satu motif yang teraplikasi pada Kain Pelepai sebagai satu diantara tekstil atawa Wastra Tradisional Jelma Lampung. Kain Pelepai atawa Kain Nampan sebagai warisan tenun para Dapunta Pesagi Seminung ini merupakan kain tenun dengan motif yang menggunakan teknik kait dan kunci [key and rhomboid shape] dan telah dikenal eksistensinya bahkan sejak abad ke 2 Masehi. Dari kitab sejarah dinasti Liang diketahui bahwa antara tahun 430-475 M dari Kantoli/Kendali sebagai Ibu Negeri dari Sekala Bekhak Kuna telah beberapa kali mengirimkan utusannya ke Negeri Cina. Disebutkan bahwa Kendali terletak di Svarnadipa yakni sebuah pulau dilaut selatan, adat kebiasaanya serupa dengan Campa dan Khmer, negeri ini menghasilkan Pinang, Kapas dan Kain kain berwarna [Buppak, Tapis dan Pelepai].

Motif Kapal Jung akhirnya mencapai puncak eksistensinya saat ekspedisi para Dapunta Pesagi Seminung yakni Dapunta Hyang Jayanasa dan Dapunta Syailendra menaklukkan Mukha Upang dan mendirikan Kedatuan Srivijaya dengan Ibu Negerinya Minanga Komering. Sebagai Kedatuan Maritim terdapat lima pelabuhan utama yang merupakan akses awal dan bagi perniagaan diselatan Sumbagsel yakni Komering Minanga, pelabuhan Krui, pelabuhan Semaka, pelabuhan Tulang Bawang dan pelabuhan Balau. Selain merupakan simbol filosofis didalam adat, secara empirik Kapal Jung juga merupakan kekuatan bahari Kedatuan Srivijaya yang mengontrol selat sunda dan selat malaka pada masanya.
Secara semiotika Kapal Jung dalam Pelepai Lampung juga memiliki korelasi dalam terminologi Agama, Bahtera Nuh yang adalah merupakan kapal besar yang dibina oleh Nabiyullah Nuh bagi menyelamatkan makhluk Tuhan dari azabNya untuk para pendurhaka. Bahtera Nuh atawa Noah Ark adalah bahtera yang mengantarkan Ummat Manusia untuk berhijrah dari dunia lama menuju kedunia baru, dari kebatilan menuju kepada kebajikan, dari kekacauan menuju kepada kedamaian serta dari keingkaran kepada keimanan. Nabiyullah Nuh adalah juga merupakan Abul Bashar atau Bapak Manusia yang kedua setelah Sayyidina Adam. Hal ini karena Tuhan telah mengazab manusia yang kufur padaNya dan menyelamatkan ummat serta manusia yang beriman kedalam Bahtera Nuh Alaihissalam. Ketiga putera Nuh akhirnya menurunkan tiga ras manusia didunia yakni Sam menurunkan kulit putih/Eropid, Ham kulit hitam/Negroid dan Yafits kulit kuning/Asiatic.
Allahua’lam Bishawaab..
Tabik Puuun..




