Sekretaris Keluarga Besar Marhaenis Jateng Tegaskan KBM Tak Akan Jadi Partai Politik

SEMARANG- MEDIANASIONAL.ID-Bertempat di Joglo Dewan Kesenian Kota Semarang DPP Keluarga Besar Marhaenis (KBM) Jawa Tengah Sabtu (19/9/26) kembali menyelenggarakan Diskusi Kajian Marhaenisme. Diskusi dihadiri 100 an undangan yang terdiri dari Pengurus Dewan Pimpinan Propinsi KBM Jawa tengah, Pimpinan KBM Kota Semarang, Kabupaten Kendal, Kabupaten Demak, Kabupaten Grobogan serta beberapa ormas seazas seperti GPM, Pemuda Demokrat, LKN dan GMNI.

Pengelolaan Organisasi 

Mengambil tema Menggerakkan Organisasi Marhaenis, diskusi dipantik oleh dr Agung Sudharmanto, Sekretaris KBM jawa tengah. dr Agung menyampaikan bahwa potensi besar yang dimiliki kaum marhaen di Jawa Tengah pada umumnya belum disadari. Hal ini disebabkan karena lemahnya pengelolaan organisasi marhaenis itu sendiri.

“Di sini KBM tidak perlu jadi partai!” tegasnya.

Dia melanjutkan, apalagi partai politik saat ini dijauhi oleh rakyat yang sudah terlanjur kecewa dengan performa partai politik yang seolah tidak memikirkan kebutuhan rakyat. “Rakyat hanya butuh terpenuhinya kebutuhan sehari hari, khususnya lapangan kerja, tidak butuh dipameri tumpukan uang ataupun jogetan pejabat,” ujar dia.

Marhaenisme Ditafsirkan Sendiri 

Sementara itu Adi Kuntoro, Ketua DPP KBM Jawa Tengah mengatakan, banyak yang tahu soal Marhaenisme, tapi dalam pelaksanaan sehari-hari mereka selalu menafsirkan dan melaksanakannya menurut selaranya sendiri. Adi Kuntoro berharap, diskusi ini berjalan terus.

“Tidak ada gerakan revolusioner tanpa teori, diskusi yang revolusioner,” jelasnya.

Pola Pergerakan Disesuaikan dengan Zaman

Sejalan dengan itu, Kelana Siwi (Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPD GPM Jawa Tengah mengatakan bahwa di samping banyak lahirnya organisasi marhaenis saat ini, ternyata terjadi kemandegan gerakan marhaenisme. Hal ini menurutnya terjadi karena banyak tokoh yang hanya cuma mengenang kebesaran masa lalu saja. “Kaum marhaenis cenderung terperangkap dalam teori usang,” ujarnya.

Kelana mengutip kalimat Karl Marx, Jika para filsuf hanya memikirkan situasi, maka kita harus merubahnya!“ Maka kaum marhaenis harus terus mencari satu pola gerakan yang cocok dengan kekinian. Zaman itu terus berubah. Situasi saat ini tentu berbeda dengan tahun 1933 dan tahun 1964. Dengan menyesuaikan gerak zaman, organisasi marhaen tentu akan bisa menjawab tantangan zaman,” jelasnya.

Kelana juga melihat bahwa terfragmentasinya gerakan marhaenis ini adalah karena sifat kekanak-kanakan para elit marhaenis itu sendiri. “Mereka hanya berfikir secara subyektif yang dilandasi sikap suka tidak suka terhadap satu sama lain, maka, ayo bersatulah!,” tegasnya.

Dalam diskusi ini juga dihadiri tokoh sepuh marhaenis seperti Urip Lestari, Sri Rahayu Tendo, Bung Soecipto, SH, Bung Amat Antono dari Pekalongan, Bung Sapto dan lainnya.(#)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses