Jakarta, medianasional || Baru-baru ini, lagu yang baru viral dengan judul “Joko Tingkir Ngombe Dawet” mendapat sorotan di tengah masyarakat. Titik perdebatannya pada penyebutan nama Joko Tingkir yang dalam sejarahnya beliau merupakan seorang raja yang berkuasa tahun 1568-1582, bahkan Gus Dur menyebut sosok Joko Tingkir merupakan seorang Wali”. 18/08/2022
Persoalan ini direspons Hasan Maftuh, selaku Sekretaris Jenderal Lembaga Dakwah PB HMI yang menyatakan bahwa “penyebutan nama Joko Tingkir seharusnya dilakukan koreksi. Bagi yang mengetahui siapa Joko Tingkir, pasti akan memiliki pendapat bahwa menggunakan nama Joko Tingkir dalam lagu ini nampak kurang relevan. Sebagai seorang tokoh besar, seharusnya namanya disakralkan dan dimuliakan.
Lanjut Hasan, “Persoalan ini bukan pada masalah karya seni, namun terkait wibawa tokoh Joko Tingkir. Persoalan ini jika dibiarkan akan menyebabkan disinformasi sejarah ketokohan Joko Tingkir. Pada kenyataannya saat ini, lagu tersebut sering dinyanyikan oleh biduan seksi dengan joget-joget erotis. Berangkat dari peristiwa ini, ada harapan kepada para seniman untuk lebih hati-hati saat menciptakan karya seni”.
Dari sisi silsilah, kebanyakan masyarakat banyak yang belum tahu, jika Joko tingkir atau Sultan Hadiwijaya merupakan kakek dari KH. Hasyim Asy’ari dan Gus Dur. Joko Tingkir merupakan seorang raja, sekaligus wali di Jawa yang memiliki prestasi gemilang pada masanya.
Tanpa mengurangi wibawa dan ketokohan Joko Tingkir, pada lagu berjudul Joko Tingkir yang akhir-akhir ini sedang viral harus ditarik dari peredaran.
Disatu sisi, peru diketahui dalam perspektif sejarah dan genealoginya, Joko Tingkir memiliki generasi penerus yang menjadi tokoh besar bangsa Indonesia. Misalkan seperti, pangen Benowo, pangeran Sambo hingga menurunkan Kyai Abdul Wahid yang makamnya berada di desa Tingkir, Salatiga. Kyai Abdul Wahid juga keturunan yang merupakan salah satu pejuang Pangeran Diponegoro saat perang Jawa.
Selanjutnya, dari Kyai Abdul Wahid menurunkan putra bernama Kyai Khoiron Purwodadi, selanjutnya silsilah di bawahnya menurunkan kyai As’ari, sampai kepada KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim dan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Dari genealogi menunjukkan bahwa Joko Tingkir adalah penurun tokoh-tokoh besar yang perlu dihormati serta namanya perlu dimuliakan.
Jadi, sangat Wajar jika Gus Muwafiq juga merespons kemunculan lagu ini. Sebagaimana menurut Hasan, “lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet perlu kiranya dievaluasi dan klarifikasi dari pembuat lagu. Jika perlu ditarik dari peredarannya. Dikhawatirkan apabila terus dibiarkan dapat memunculkan kegaduhan pro dan kontra di masyarakat. (*)






