Tampak pompa mobile milik Sudin SDA Jaksel, yang seharusnya dibangun Rumah pompa permanen.
Jakarta, MEDIANASIONAL.ID — Proyek penanganan banjir di kawasan Cipulir–Seskoal, Jakarta Selatan, kini memunculkan pertanyaan serius. Meski anggaran puluhan miliar rupiah telah digelontorkan, masyarakat mengaku banjir justru semakin cepat dan lebih sering terjadi.
Sorotan utama tertuju pada proyek: Pembangunan Rumah Pompa Cipulir Dalam Rangka Penanganan Genangan Seskoal milik Dinas SDA DKI Jakarta.
Proyek senilai Rp35,9 miliar tersebut dikerjakan oleh PT Pulau Bintan Bestari.
Papan Proyek Pembangunan Rumah Pompa Cipulir tahun 2024
Menariknya, berdasarkan data realisasi Inaproc LKPP, PT Pulau Bintan Bestari tercatat telah menerima pembayaran sekitar Rp28.170.611.362 dan status paket disebut selesai.
Namun fakta di lapangan memunculkan kejanggalan.
Pantauan di kawasan Kali Pesanggrahan, Cipulir, Kebayoran Lama, tidak menunjukkan keberadaan rumah pompa permanen yang jelas sebagaimana nama paket pekerjaan tersebut.
Yang terlihat di lokasi justru pompa mobile milik Suku Dinas SDA Jakarta Selatan.
Kondisi itu menimbulkan pertanyaan: jika proyek rumah pompa telah dibayarkan miliaran rupiah dan berstatus selesai, mengapa lokasi masih mengandalkan pompa mobile?
Proyek Jacking Diduga Kehilangan Sistem Utama
Persoalan ini semakin menarik karena pada tahun 2024 Dinas SDA DKI Jakarta juga menjalankan proyek: Pembangunan Saluran Jacking Penanganan Genangan di Wilayah Cipulir (Seskoal) senilai Rp41,9 miliar yang dikerjakan PT Rosa Lisca.
Pekerjaan polder pada proyek Jacking Cipulir
Secara teknis, saluran drainase bawah tanah atau jacking tersebut seharusnya terintegrasi dengan rumah pompa sebagai pusat pengendali aliran air menuju Kali Pesanggrahan.
Namun jika rumah pompa belum berfungsi optimal atau bahkan belum benar-benar tersedia, maka efektivitas proyek jacking tersebut ikut dipertanyakan.
“Saluran jacking itu hanya jalur distribusi air. Kalau rumah pompa dan outlet akhirnya belum siap, maka sistem bisa tidak bekerja maksimal,” ujar seorang ahli tata air perkotaan.
Menurutnya, pembangunan sistem pengendalian banjir harus dilakukan secara utuh dan tidak parsial.
“Kalau satu komponen belum siap tetapi saluran sudah dibangun, air justru bisa tertahan di dalam sistem dan mempercepat genangan,” katanya.
Jejak Persoalan Sejak 2022
Sebelumnya pada tahun 2022, Sudin SDA Jakarta Selatan juga mengerjakan proyek: Pembangunan Drainase Bawah Tanah (Jacking) Jl. Ciledug Raya & Pejaten Raya senilai sekitar Rp15 miliar yang dikerjakan PT Pubagot Jaya Abadi.
Jalur proyek disebut mengarah dari Kali Uangan Ulujami menuju Kali Pesanggrahan untuk menangani genangan di kawasan Komplek BNI Ulujami.
Namun warga mengaku tidak pernah melihat output saluran besar maupun sistem pompa permanen yang jelas menuju Kali Pesanggrahan.
Kini setelah proyek-proyek baru kembali digelontorkan dengan nilai jauh lebih besar, masyarakat justru menilai kondisi banjir semakin buruk.
“Sekarang cepat banjir dan lebih sering banjir setelah ada proyek ini,” ujar Wawan, pekerja di kawasan Pasar Cipulir.
Sementara Pendi menyebut proyek tersebut lebih menyerupai kerusakan lingkungan.
“Parah mas! Ini bukan pembangunan, tapi perusakan lingkungan,” cetusnya.
Kondisi seperti ini disebut sebagai perusakan lingkungan. (Foto lokasi di depan Pasar Cipulir, Jalan Ciledug Raya, Cipulir Kebayoran Lama, Jakarta Selatan)
Pantauan di lapangan menunjukkan bekas pekerjaan proyek masih meninggalkan kerusakan berupa beton saluran berserakan, trotoar rusak, dan bekas galian terbuka.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Suku Dinas SDA Jakarta Selatan Santo maupun Kepala Dinas SDA DKI Jakarta Ika Ningrum belum memberikan tanggapan atas konfirmasi media terkait status rumah pompa, integrasi proyek drainase, serta penggunaan pompa mobile Sudin SDA Jaksel di lokasi proyek bernilai puluhan miliar rupiah tersebut.






