
Bungo, redaksimedinas.com – Beberapa elemen masyarakat yang terdiri dari jurnalis dan mahasiswa menggalang dana untuk Asna (50) TKI asal Bungo yang Koma di Malaysia, pada Sabtu (17/3) malam.
Elemen ini sementara mencakup Persatuan Wartawan Bungo (PWB) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Bungo. Mereka membawa sebuah kotak dan memberitahukannya pada beberapa warga Bungo yang hadir dalam acara Budaya di halaman rumah makan Salero Bundo di Jalan Sultan Thaha.
Kilat dan petir sesekali muncul. Para penggalang dana ini kemudian menyelipkan pengumuman dalam acara budaya tersebut terkait kondisi Asna saat ini. Setelah berkeliling dari sekitar pukul 20.00 hingga 22.00 WIB, para penggalang dana ini mendapatkan sumbangan sebanyak Rp 654.000,00.
“Setidaknya ini jadi awal yang baik untuk memicu sumbangan yang lebih banyak dari masyarakat Bungo,” kata Ramadhan dari PWB.
Hasil sumbangan yang didapat ini langsung diberikan pada Emmy Yanti, anak kandung Asna yang berada di Bungo. Ien dari HMI cabang Bungo langsung memberikannya dan bertanya-tanya tentang kondisi Asna terkini. Ien berharap bantuan yang mereka berikan dapat membantu keluarga.
Emmy mengatakan kondisinya masih belum sadarkan diri. Namun, kaki ibunya sudah mulai bergerak-gerak. Dia mengatakan hanya tantenya, Gabena (45), yang menjaga ibunya di Malaysia.
Asna adalah warga Desa Baru Petenun Kecamatan Jujuhan. Sudah tiga minggu ini dia terbaring koma di Rumah Sakit Malaysia. Beberapa hari ke belakang Asna pindah ke Rumah Sakit Kajang di Selangor, Malaysia.
Emmy mengatakan awalnya dihubungi oleh majikan ibunya mengenai kondisi sakitnya. Asna tak sadarkan diri karena pembekuan darah di otak dan sempat dioperasi. Namun, karena biayanya terus naik, majikan merasa tak dapat membantu lagi sebab biaya yang tinggi.
Keluarga lantas ingin segera berada disana untuk mendampingi Asna. Gabena yang merupakan adik kandung Asna kemudian berangkat. Gabena sempat mengalami banyak hambatan. Dia dijebak agen pembuatan paspor dan kemudian dibantu ole kantor imigrasi untuk mempercepat pembuatan paspor. Lantas ketika berangkat ketika di Batam malah disuruh berangkat lewat Dumai oleh orang yang ditemuinya di pelabuhan.
Gabena sampai di samping ranjang Asna Sabtu (17/3) lalu. Namun, keluarga masih bingung mau membawanya pulang. Asna belum sadar dan biaya pun belum ada. Sementara Emmy mengatakan rumah sakit sudah membolehkan Asna dibawa pulang keluarganya.
Sempat ada teman Emmy yang menanyakan ke kedutaan di Malaysia. “Tapi katanya belum boleh karena melihat kondisi Mak masih koma. Belum bisa dibawa pulang,” katanya.
Emmy mengatakan biaya rumah sakit sudah mencapai 80 juta lebih. Dia sudah mendatangi beberapa orang tapi tidak ada respon.
Beberapa rekan penggalang dana yang mau membantu ada pula yang datang ke bagian pemerintahan dan tidak ada respon.
Ien selaku anggota HMI mengatakan jika ada warga Bungo, Jambi atau siapa pun yang ingin membantu dapat mentransfer langsung ke Emmy, anak dari Asna. Transfer bisa dikirim ke 754701003018536 bank BRI (Bank Rakyat Indonesia) atas nama Emmy Yanti atau bisa dihubungi via facebook Emoy Emy.(fa)






