Pohon Sengon Penopang Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat Desa Wates

Batang248 Dilihat

Batang, medianasional.id
Warga Pedukuhan Banyuwerno Kecamatan Wonotunggal di musim penghujan giat melakukan penanaman pohon sengon, karena di rasa hasilnya sangat menjanjikan guna menopang perekonomian keluarga, walaupun masa panennya yang produktif 5 tahun sekali di temui di sela – sela penanaman pohon sengon,” ucap Lasimen dengan polosnya, Sabtu, 29/12/12.

“Bahwa sudah 10 tahun ini warga sekitar guyub, rukun kompak menanam pohon sengon, hal ini di karena 10 tahun silam masyarakat desa sini sudah pernah menanam pohon jambon, saya sendiri pernah mempraktekan dengan menanam pohon jambon di luas tanah 1 hektar dengan jumlah bibit pohon 1000, yang satunya kala itu saya beli perpohon harga 500 kurang lebih tingginya 20 cm. Dan saya tunggu untuk masa tebang produktifnya 8 tahun, dan waktu tebangpun tiba, saya jual harganya perpohon kala itu ada yang laku Rp. 200.000, Rp.100.000 bahkan juga ada yang di hargai Rp.50.000 dan harga global kala itu laku 37.000.000. Mengingat besar kecil pohon tidak merata walaupun usia dan waktu penanamannya beriringan,” ujarnya penuh dengan sesal.

Namun dengan pengalaman yang ada akhirnya kala itu pihak kecamatan Wonotunggal melakukan pendampingan awal penanaman pohon sengon dengan modal bibit di bagikan secara gratis sebagai pengenalan penanaman pohon sengon pertama di pedukuhan kami, saya itu saya terima bibit sejumlah 1000 bibit, dan saya tanam bersama warga masyarakat sekitar yang juga menerima bantuan serupa,” ucapnya penuh semangat.

“Kurun waktu 5 tahun masa tebang produktif harga perpohonpun bervariatif ada yang laku Rp.1.000.000, Rp. 1.500.000, dan paling murah kala itu Rp. 500.000, secara global 1000 pohon sengon dengan luas area tanah 1 hektar laku Rp. 250.000.000. Hasilnya sangat memuaskan, semenjak itu masyarakat konsisten sampai sekarang mempertahankan pohon sengon sebagai komoditas unggulan hasil perkebunan saat ini selain durian dan petai, walaupun produktif jual umur 5 tahun,” Tuturnya dengan penuh kebanggaan.

Senada dengan Lasimen, warga desa Banyuwerno Waryono menuturkan bahwa setelah menanam pohon sengon perekonomian keluarga terangkat, sehingga saya dan warga sekitar sebagai besar kala itu merantau ke Jakarta untuk merubah nasib, setelah merasakan hasil penjualan pohon sengon, saya pribadi sudah enggan merantau,” ujarnya dengan penuh optimis.

“Untuk kebutuhan sehari-hari warga masyarakat sekitar mengandalkan hasil dari perkebun pisang terutama daun pisang yang laku keras di jual untuk sarana pembungkus semua jenis produk makanan, sebagai contoh bungkus tempe dan nasi, dan untuk hasil menopang kebutuhan tambahan perbulan masyarakat yang rata – rata menanam kacang panjang, cabe, dan terong. Sebagian besar masyarakat yang tidak memiliki kebun dan sawah sehari – harinya menjual kayu bakar, tukang batu, dan pekerja serabutan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ucapnya.

Lanjutnya, adapun tambahan penghasilan tahunan yaitu penjual hasil kebun buah durian, nangka, petai dan jengkol yang hasilnya sangat menjanjikan, namun ada juga pohon durian, petai, jengkol dan nangka yang berbuah satu tahun dua kali bahkan tiga kali,” tutupnya penuh semangat dan keyakinan.

Reporter : Sukirno

Editor : Puji_Leksono

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses