Penantian Empat Tahun Berakhir, Pembangunan Jembatan Permanen Grumbul Cibun Resmi Dimulai

Banyumas1261 Dilihat
BANYUMAS, medianasional.id– Asa warga Grumbul Cibun, Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas untuk memiliki akses transportasi yang layak akhirnya terwujud. Setelah sempat mandek, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas resmi melanjutkan pembangunan tahap keempat jembatan permanen di atas Sungai Logawa pada ruas jalan Baseh–Sunyalangu, Senin (24/8/2026).
.
Kelanjutan proyek strategis ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, didampingi anggota DPR RI Yanuar Arif Wibowo dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Banyumas Kresnawan. Jembatan permanen dengan panjang 60 meter dan lebar 8 meter ini ditargetkan rampung dalam waktu lima bulan pengerjaan. 

.
Kepala Dinas PU Banyumas, Kresnawan, menjelaskan bahwa kelanjutan konstruksi tahap keempat ini berhasil berjalan berkat adanya bantuan gelagar dari pemerintah pusat senilai Rp5 miliar, yang dikawal langsung oleh anggota DPR RI Yanuar Arif Wibowo. Anggaran tersebut melengkapi alokasi dana dari APBD Banyumas sebesar Rp2,1 miliar. Meski demikian, Kresnawan menekankan proyek ini masih membutuhkan tahapan berikutnya untuk menyambung akses jalan di seberang jembatan. 

.
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, berkomitmen untuk terus memperjuangkan kelanjutan pembangunan jalan penghubung di seberang sungai agar jembatan tersebut tidak hanya bisa dilalui kendaraan roda dua seperti saat ini. Mengingat keterbatasan anggaran, Sadewo memproyeksikan kelanjutan akses jalan tersebut baru bisa terealisasi pada tahun 2028. Ia juga mengapresiasi kerelaan warga setempat yang sepakat menghibahkan lahan mereka untuk pelebaran jalan tanpa menuntut ganti rugi. 

.
Bagi warga Grumbul Cibun, kelanjutan proyek ini menjadi angin segar setelah menanti sejak pembangunan tahap ketiga selesai pada akhir 2022 lalu. Wartun, salah satu warga RT 8 mengungkapkan, jembatan ini merupakan urat nadi perekonomian masyarakat. Sebelum adanya jembatan gantung pada 2004, warga terpaksa menyeberangi sungai secara langsung. Ketika jembatan sempat ditutup total untuk pengerjaan terdahulu, mobilitas warga lumpuh dan mereka terpaksa memutar jauh melewati Sokawera hanya untuk pergi ke pasar.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses