Pemprov PBD Bersama Konservasi Indonesia dan Mitra Laksanakan Peluncuran Perdana RAMS

Papua669 Dilihat

Raja Ampat, medianasional.id – Dalam rangka memperingati Hari Samudera atau Hari Laut Sedunia. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya (Pemprov PBD) bersama Konservasi Indonesia dan Mitra kerja,melaksanakan peluncuran perdana Raja Ampat Mooring System (RAMS), di atas Kapal KM Yefyus (Kapal Navigasi Service), perairan Raja Ampat, Sabtu 08/06/2024.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Kadis Kominfo Statistik dan Persandian Provinsi PBD Irma Riyani Soelaiman, Kepala Distrik Navigasi Kelas I Sorong Arif Muljanto, Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas II (dua) Raja Ampat, Kadis Perikanan kabupaten Raja Ampat,Yosep Mirino dan Perwakilan Bapperida PBD, Dinas Pariwisata PBD, dan Dinas Perhubungan PBD.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan (P2KP) Provinsi Papua Barat Daya, Absalom Solossa mewakili Penjabat Gubernur, menyatakan, Raja Ampat Adalah ’Jantung’ Segi Tiga Terumbu Karang Dunia, 75% (persen) terumbu karang dunia berada perairan laut Raja Ampat Ini.

”Kita Berada di sini, tepatnya kawasan konservasi area III Selat Dampier, sebagai salah satu dari tujuh kawasan konservasi di perairan Kepulauan Raja Ampat, untuk meluncurkan Raja Ampat Mooring System atau disingkat RAMS, yang merupakan jejaring fasilitas tambat-labuh yang di peruntukkan bagi moda transportasi laut, terkhusus yang dipergunakan untuk kepentingan wisata,” ucap Absalom.

Menurutnya, tujuan dari fasilitas tambat-labuh pada RAMS agar kapal-kapal wisata tidak membuang jangkar yang dapat merusak terumbu karang sebagai modal utama pariwisata dan perikanan, yang terutama adalah ’piring makan’ masyarakat Raja Ampat. Terdapat dua unit fasilitas tambat-labuh yang diluncurkan pada hari ini.

”Masyarakat kampung Friwen telah melakukan upacara adat dalam rangka pemasangan unit fasilitas labuh-tambat yang kita luncurkan hari ini, dan ini merupakan wujud dukungan yang kuat dari masyarakat,” ujar Absalom.

Dijelaskan, 2 (dua) fasilitas tambat-labuh dimaksud adalah awal dari sekitar seratus tujuh puluh unit yang diperlukan di masa yang akan datang, yang akan memperkuat visi ‘Raja Ampat tanpa jangkar’. “Oleh karena itu semua kapal wisata yang masuk ke perairan Raja Ampat harus menggunakan fasilitas labuh-tambat ini,” tandas Absalom.

Tim Liputan medianasional.id

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses