YOGYAKARTA, medianasional.id -Setiap perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, permainan panjat pinang hampir selalu menjadi salah satu kegiatan yang paling dinanti masyarakat. Di balik keseruan, lumuran oli, dan gelak tawa, panjat pinang sebenarnya menyimpan sebuah filosofi sederhana namun sangat dalam tentang kehidupan, perjuangan, kebersamaan, dan kepemimpinan.
Untuk mencapai puncak, tidak ada satu orang pun yang mampu melakukannya seorang diri. Ada yang berdiri menjadi pijakan paling bawah menahan beban berat, ada yang memanjat di tengah menjaga keseimbangan, dan ada pula yang memberikan sorak semangat dari bawah. Semuanya memiliki peran. Semuanya saling mendukung.
Begitupun dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Seorang pemimpin tidak mungkin berdiri di puncak kekuasaan tanpa adanya dukungan masyarakat. Jabatan, kedudukan, dan keberhasilan seorang pemimpin pada dasarnya merupakan buah dari kepercayaan serta dukungan penuh orang-orang yang berada di bawahnya.
Namun, jika kita menengok sejarah, panjat pinang tidak selalu bermakna seindah hari ini. Pada masa kolonial Belanda, permainan ini dikenal sebagai de Klimmast (memanjat tiang). Kala itu, kaum elite kolonial memasang tiang licin berisi sembako dan pakaian untuk diperebutkan oleh kaum pribumi. Sementara masyarakat bawah bersusah payah, saling injak, dan bermandikan keringat demi bertahan hidup, para meneer Belanda hanya duduk menonton dari atas altar sambil tertawa terbahak-bahak. Permainan tersebut mulanya adalah simbol eksploitasi dan hierarki sosial yang timpang.
Setelah merdeka, bangsa kita berhasil melakukan pembalikan makna sejarah (re-contextualization). Kita mengubah de Klimmast yang kelam menjadi simbol gotong royong, kesetaraan, dan perjuangan kolektif yang murni milik rakyat.
Ironisnya, fenomena kepemimpinan hari ini sering kali mengaburkan makna kemerdekaan tersebut dan justru membawa kita kembali ke mentalitas era kolonial. Persoalan klasik selalu muncul ketika seseorang telah berhasil berada di “puncak”. Muncul penyakit political amnesia—sebuah kondisi di mana para pemimpin mendadak lupa pada mereka yang dahulu menjadi bagian penting dalam perjuangannya. Mereka yang dulu memberikan dukungan, kepercayaan, bahkan merelakan pundaknya menjadi “pijakan” politik, seketika tidak lagi didengar setelah kursi kekuasaan berhasil diduduki.
Dalam teori kontrak sosial, kekuasaan yang dipegang oleh seorang pemimpin bukanlah hadiah gratis atau milik pribadi. Kekuasaan adalah mandat suci dari rakyat sebagai pemilik sah kedaulatan. Pemimpin hanyalah agen yang dititipkan amanah, sementara rakyat di bawah adalah pilar utama yang menopangnya. Ketika pemimpin memutus komunikasi vertikal dan mengabaikan kritik, ia sedang meruntuhkan fondasi kekuasaannya sendiri.
Masyarakat bukan sekadar angka dalam perolehan suara di bilik TPS. Masyarakat bukan kumpulan komoditas yang hanya didekati saat musim pemilihan berlangsung, lalu ditinggalkan begitu saja setelah kepentingan elite terpenuhi. Masyarakat adalah bagian utuh dari perjalanan dan nyawa dari kepemimpinan itu sendiri.
Oleh karena itu, momentum HUT Kemerdekaan RI semestinya menjadi alarm pengingat bagi siapa pun yang sedang memegang kendali kekuasaan. Jangan sampai filosofi gotong royong hanya menjadi tontonan musiman dalam permainan panjat pinang, sementara dalam realitas bernegara, mentalitas kolonial—di mana yang di atas asyik menikmati fasilitas dan yang di bawah dibiarkan tersisih—justru subur dipraktikkan.
Pemimpin yang baik adalah mereka yang mempraktikkan kepemimpinan kolaboratif. Mereka tetap mau melihat ke bawah, mendengar jeritan masyarakat, membuka diri terhadap kritik, dan menghargai setiap orang yang pernah menopang langkahnya.
Mencapai puncak kekuasaan memang sebuah prestasi politik. Namun, menjaga kepercayaan dan merawat kesejahteraan orang-orang yang telah mengantarkan kita ke puncak tersebut adalah tanggung jawab moral yang jauh lebih besar. Panjat pinang mengajarkan satu hal fundamental: tidak ada puncak yang bisa digapai sendirian. Maka, jangan pernah sekali-kali melupakan mereka yang telah menjadi pijakan dalam perjalanan menuju keberhasilan Anda.(red).






