Opini : Agama dan Kiamat Ekologis

Artikel764 Dilihat

Umat manusia di seluruh dunia sedang menghadapi ancaman kiamat lingkungan. Kiamat lingkungan merujuk pada kerusakan atau kehancuran atau bahkan berakhirnya kehidupan di bumi yang terjadi akibat kerusakan lingkungan yang terjadi secara besar-besaran.

Ada beberapa peristiwa yang menandai kiamat lingkungan itu, misalnya peningkatan suhu global, munculnya cuaca ekstrem, juga pola musim hujan dan kemarau yang tidak normal. Selain itu jugaberlangsungnya deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, penyebaran spesies invasif, serta kelangkaan sumber daya alam. Tanda yang lain adalah polusi udara, air dan tanah yang sudah sangat parah di banyak wilayah.

Berbagai masalah lingkungan tersebut akan membawa ancaman serius bagi keberlanjutan hidup manusia. Itu ditandai oleh kejadian bencana lingkungan yang semakin kerap menyerang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat Selama 15 tahun terakhir ada peningkatan secara signifikan dalam frekuensi dan intensitas bencana di Indonesia.

Kajian oleh Bank Dunia, yang disusun dalam laporan berjudul The Atlas of Sustainable Development Goals 2023, juga menunjukan bahwa telah terjadi peningkatan frekuensi dan skala kejadian bencana terkait perubahan iklim di seluruh dunia sejak tahun 1970 hingga 2021.

Sementara itu, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) juga memperkirakan bahwapada tahun 2050, suhu bumi akan naik 2 derajat celcius. Kenaikan suhu ini akan berpengaruh pada pencairan es di kutub dan menyebabkan permukaan air laut naik sekitar 20 cm. Kondisi ini cukup untuk menenggelamkan kota-kota yang ada di pinggir pantai.

Berbagai peristiwa lingkungan tersebut menjadi pertanda bahwa kiamat lingkungan adalah sesuatu yang nyata. Dan, tanpa adanya intervensi yang serius, kita semua sedang menyongsong kiamat lingkungantersebut. Karenanya, kita harus mencegah agar kiamat lingkungan itu tidak terjadi.

Agama dan Perilaku Pro-lingkungan

Kiamat lingkungan tersebut dapat dicegah bila warga seluruh dunia dapat bekerjasama untuk menyelamatkan bumi. Mengapa demikian? Karena penyebab kiamat lingkungan tersebut merupakan dampak dari perilaku lingkungan dari warga dari berbagai belahan dunia.

Ia terjadi karena orang membuang sampah sembarangan, menggunduli hutan, menyampah ke sungai dan laut, menggunakan plastik, dan sebagainya. Dan itu dilakukan oleh semua orang di berbagai belahan dunia. Karenanya, hanya dengan mengubah perilaku kolektif secara global, kiamat lingkungan tersebut dapat dicegah.

Dihadapkan pada persoalan demikian, perlu ada kekuatan yang dapat menggerakan masyarakat secara global. Peran ini semestinya dapat dilakukan lembaga-lembaga berskala global, seperti perserikatan bangsa-bangsa, organisasi perdagangan dunia, bank dunia, atau perusahaan-perusahaan multinasional.

Mereka dapat melakukan perubahan pada skala global, karena mereka memiliki modal ekonomi dan politik yang kuat. Namun kerja lembaga-lembaga tersebut sejauh ini masoh jauh dari menggembirakan. Sehingga perlu ada lembaga alternatif yang bisa kita harapkan.

Agama, sebagai organisasi sosial, dapat menjadi kekuatan yang dapat memainkan peran sentral dalam usaha untuk mencegah kiamat lingkungan tersebut.Hal itu tidak lepas dari fakta bahwa mayoritas masyarakat di dunia menganut agama, dan perilaku serta kebiasaan mereka sangat ditentukan oleh ajaran agama yang mereka yakini.

Di luar itu, setiap agama juga memiliki konsepsi khas tentang hubungan antara manusia dan alam. Agama Islam mengajarkan bahwa manusia harus dapat menjadi khalifah di muda bumi, yang memiliki tanggung jawab terhadap bumi dan isinya.

Agama Katholik juga mengajarkan bahwa manusia harus mengelola dan mengurus alam secara bijaksana serta bertanggungjawab. Sementara agama Budha mengajarkan penting sikap welas asih terhadap makhluk semua makhluk, serta pentingnya menjaga keseimbangan dan harmoni dengan alam.

Berbagai agama dan aliran kepercayaan yang lain saya yakin juga memiliki keyakinan dan ajaran serupa. Mereka semua memiliki ajaran yang mendukung gagasan dan sikap pro-lingkungan, dan mendukung perilaku lingkungan berkelanjutan.

Bahwa agama mendukung perilaku prolingkungan tersebut sudah dibuktikan oleh hasil riset. Beberapa riset menunjukan bahwa agama memiliki peranpenting dalam membentuk dan mendorong perilaku pro-lingkungan (Kahsay Haile Zemo & Halefom Yigzaw Nigus, 2020). Hasil penelitian lain olehElizabeth A. Minton dkk (2015) juga menunjukkan bahwa individu yang memiliki tingkat religiusitas tinggi cenderung berpartisipasi dalam perilaku lingkungan berkelanjutan.

Kajian literatur yang dilakukan oleh Kintan Qumariyana (2022) terhadap beberapa hasil riset empiris juga menunjukan bahwa agama dan religiusitas mendukung munculnya perilaku pro-lingkungan. Dengan kata lain, seorang yang religius lebih mungkin untuk memunculkan perilaku pro-lingkungan.

Namun, kajian Mubarok dan Handrix Chris Haryanto  (2020) menunjukan bhwa keberadaan agama (ajaran dan tokoh agama) tersebut hanya mendorong perilaku pro-lingkungan pada level individual. Ia belum mampu mendorong gerakan yang luas dan massif pada ranah kebijakan atau menjaga ekosistem.

Temuan ini menjadi hal yang penting untuk diperhatikan, mengingat pengaruh agama pada perikau pro-lingkungan ternyata hanya bersifat subjektif individual. Sementara, untuk menyelesaikan masalah lingkungan perlu dilakukan kerja kolektif. Itu artinya, ada faktor lain yang perlu dikendalikan agar masyarakat dapat melakukan perilaku pro-lingkungan secara kolektif.

Bagaimana Agama menggerakan perilaku pro-lingkungan?

Terkait temuan beberapa riset tersebut, adalah penting kiranya para tokoh agama menempatkan isu tentang lingkungan sebagai salah satu tema utama diskursus keagamaan. Hal demikian perlu dilakukan supaya semakin banyak orang yang memiliki kesadaran lingkungan, dan terdorong untuk terlibat dalam penanganan masalah lingkungan.

Pengarusutamaan tema lingkungan dalam diskursus agama tersebut telah dilakukan oleh beberapa pemuka agama. Misalnya, beberapa dari mereka menerbitkanbuku-buku agama yang secara khusus membahas tema lingkungan, misalnya Fiqih Lingkungan, Islam dan Lingkungan, dsb. Sebagian juga telah menjadikan tema lingkungan dalam khotbah keagamaan.

Lebih lanjut, para tokoh agama juga perlu mendorong masyarakat untuk mengambil tindakan nyata guna menyelamatkan lingkungan. Dengan demikian, keyakinan-keyakinan tersebut dapat bertransformasi menjadi sebuah gerakan massa. Baik itu gerakan pro-lingkungan yang bersifat sosial, politik, ekonomi maupun kebudayaan.

Tentu, kerja-kerja para tokoh agama itu akan efektif bila di dukung oleh stake holder yang lain. Pemerintah memberikan dukungan politik dan ekonomi, dunia industri mendukung sesuai bidangnya, akademisi memberi dukungan dari sisi ilmu pengetahuan, dan lembaga lain juga sesuai keunggulan masing-masing.

Dengan adanya kerja bersama demikian, kiamat lingkungan sangat mungkin dapat dicegah. Dan pada akhirnya bumi akan tetap menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi kita semua.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses