Brebes, medianasional.id – Perbedaan penyebutan nama Nyi Rantan Sari dan Nyi Rantam Sari menjadi salah satu pembahasan dalam diskusi kebudayaan yang berlangsung di Pendopo Bumiayu, Kabupaten Brebes, Selasa (20/10/2026). Diskusi tersebut mengangkat tradisi lisan, penelusuran sumber cerita rakyat, serta pandangan mengenai hubungan kedua penyebutan nama yang berkembang di wilayah Pantura dan Bumiayu.
Pegiat seni dan budaya Dimas Sastronagoro dalam pemaparannya membahas tradisi lisan di Brebes Selatan, termasuk legenda Nyi Rantan Sari yang telah diangkat ke panggung pertunjukan oleh Duta Seni Kabupaten Brebes di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Menurut Dimas, penggarapan cerita rakyat menjadi sebuah karya pertunjukan membutuhkan proses penelusuran sumber, pemahaman konteks lokal, dan pengkajian nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Tradisi lisan bukan sekadar cerita hiburan, tetapi juga bagian dari ingatan kolektif yang merekam identitas dan pandangan hidup masyarakat.
Pembahasan tersebut turut menyinggung polemik setelah pementasan legenda Nyi Rantan Sari di TMII. Dalam polemik itu, Hendry Yetus mempertanyakan proses riset yang dilakukan tim kreatif dalam menggarap cerita tersebut.
Terkait pemilihan tim kreatif dalam pementasan Duta Seni Kabupaten Brebes di TMII, proses tersebut didasarkan pada penelusuran literatur dan sumber referensi yang dinilai relevan serta dapat dipertanggungjawabkan. Penelusuran literatur menjadi bagian penting dalam menentukan materi cerita yang diangkat ke panggung, dengan mempertimbangkan sumber tertulis, konteks budaya lokal, dan tradisi lisan yang berkembang di masyarakat.
Pendekatan berbasis literatur tersebut dimaksudkan agar penggarapan karya seni tidak semata-mata bertumpu pada interpretasi kreatif, tetapi juga memiliki landasan referensi yang jelas. Meski demikian, kajian terhadap tradisi lisan tetap terbuka terhadap perbandingan sumber dan pendalaman lebih lanjut, terutama ketika ditemukan perbedaan versi cerita atau penyebutan nama tokoh di sejumlah wilayah.
Menanggapi persoalan itu, Dimas memaparkan sejumlah referensi yang menurutnya digunakan untuk mendukung pemahaman mengenai tradisi lisan dan kebudayaan Brebes. Referensi yang disebutkan antara lain buku Mantra Masyarakat Brebes, Di Tepi Ranjeng, Serat Raja Putera, serta sejumlah artikel jurnal ilmiah yang relevan.
Pemaparan tersebut menjadi bagian dari diskusi mengenai pentingnya riset dan penggunaan sumber yang dapat ditelusuri dalam mengangkat cerita rakyat menjadi karya seni. Relevansi masing-masing referensi terhadap legenda Nyi Rantan Sari tetap perlu ditelaah berdasarkan isi dan keterkaitannya dengan cerita yang dibahas.
Setelah mengikuti diskusi dan mendengarkan tanggapan dari sejumlah narasumber, Hendry Yetus menyampaikan pandangannya bahwa Nyi Rantan Sari dan Nyi Rantam Sari merupakan sosok yang sama. Menurutnya, perbedaan penyebutan tersebut muncul dalam tradisi lisan yang berkembang di wilayah Pantura dan Bumiayu.
Pandangan tersebut memperlihatkan pentingnya memahami cerita rakyat berdasarkan konteks wilayah tempat cerita itu diwariskan. Perbedaan pengucapan nama dapat menjadi bagian dari variasi tradisi tutur masyarakat, meskipun penelusuran lebih lanjut tetap diperlukan untuk mengetahui latar belakang dan persebaran masing-masing versi cerita.
Dalam kajian tradisi lisan, keterangan para penutur, cerita yang berkembang di masyarakat, sumber tertulis, dan hasil penelitian dapat menjadi bahan pembanding untuk memahami perubahan cerita dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Karena itu, perbedaan penyebutan Nyi Rantan Sari dan Nyi Rantam Sari tidak seharusnya langsung menjadi sumber pertentangan. Persoalan tersebut justru dapat menjadi pintu masuk bagi penelitian yang lebih mendalam mengenai sejarah lokal dan hubungan tradisi budaya antara kawasan Pantura dan Bumiayu.
Diskusi mengenai legenda tersebut juga menggarisbawahi bahwa kritik terhadap karya seni merupakan bagian dari dinamika kebudayaan. Namun, perbedaan pendapat akan lebih produktif apabila disertai argumentasi yang jelas, keterbukaan terhadap sumber, dan kesediaan untuk mendengarkan penjelasan dari pihak lain.
Di sisi lain, para pelaku budaya perlu terus mendokumentasikan cerita rakyat beserta variasi penyebutan, versi cerita, dan keterangan para penuturnya. Upaya tersebut penting agar kekayaan tradisi lisan Brebes tidak hilang sekaligus dapat dipelajari secara lebih sistematis oleh generasi berikutnya.
Dengan pendekatan dialogis dan berbasis sumber, perbedaan penyebutan Nyi Rantan Sari dan Nyi Rantam Sari diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperkuat penelitian, pelestarian, dan pemahaman terhadap warisan budaya lokal.





