YOGYAKARTA, medianasional.id – Sungai Winongo yang membentang dari Kabupaten Sleman, melintasi Kota Yogyakarta, hingga bermuara di Sungai Opak di Kabupaten Bantul, menyimpan potensi keanekaragaman hayati yang menarik untuk diteliti. Salah satunya adalah keberadaan ikan asli Jawa, Melem Batu (Diplocheilichthys pleurotaenia), yang spesimennya tertangkap oleh seorang pemancing di wilayah Sungai Winongo, Kota Yogyakarta, beberapa waktu lalu.
Temuan tersebut menjadi catatan penting bagi upaya mengenali dan mendata keberadaan ikan asli di sungai yang membelah wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tersebut.
Yudi Wahyudiana, ST, dari Winongo Institute, Rabu (21/10/2026), menyampaikan bahwa keberadaan Melem Batu menarik perhatian karena ikan tersebut disebut-sebut memiliki persebaran yang terbatas dan tergolong langka di sejumlah wilayah Pulau Jawa.
Sungai Winongo sendiri memiliki panjang sekitar 43,75 hingga 48,70 kilometer, bergantung pada titik pengukuran hulu dan hilir yang digunakan. Sungai ini berhulu di lereng Gunung Merapi di Kabupaten Sleman, melintasi kawasan perkotaan Yogyakarta, kemudian bermuara di Sungai Opak, Kabupaten Bantul.
Di tengah tekanan terhadap ekosistem sungai akibat perubahan habitat dan penurunan kualitas air, temuan Melem Batu membuka peluang untuk mengkaji lebih jauh kondisi populasi ikan asli yang masih bertahan di perairan tersebut.
Memiliki Ciri Fisik Khas
Melem Batu (Diplocheilichthys pleurotaenia) memiliki karakteristik morfologi yang membedakannya dari ikan nilem yang termasuk kelompok ikan air tawar famili Cyprinidae.
Dari bentuk tubuh, Melem Batu cenderung lebih ramping dan memanjang sehingga memiliki siluet yang lebih aerodinamis. Sementara itu, ikan nilem umumnya memiliki bagian punggung yang relatif lebih tinggi atau membusur.
Perbedaan juga dapat diamati pada struktur mulut dan bibir. Genus Diplocheilichthys memiliki karakter lipatan bibir yang khas, berbeda dengan struktur bibir pada genus Osteochilus, kelompok yang mencakup ikan nilem.
Selain itu, bentuk pangkal sirip punggung serta jumlah jari-jari sirip juga dapat menjadi karakter pembeda dalam identifikasi kedua kelompok ikan tersebut.
Meski demikian, identifikasi spesies secara pasti idealnya dilakukan melalui pemeriksaan morfologi yang terukur dan, apabila diperlukan, kajian taksonomi lebih lanjut.
Perlu Penelitian Keanekaragaman Ikan Sungai Winongo
Keberadaan Melem Batu di Sungai Winongo menjadi alasan untuk melakukan pendataan lebih menyeluruh terhadap keanekaragaman ikan asli di sungai tersebut.
Sejumlah faktor, seperti fragmentasi habitat, penurunan kualitas air, dan keberadaan bendungan atau bangunan penghambat aliran, diketahui dapat memengaruhi kelangsungan hidup serta persebaran ikan air tawar.
Karena itu, temuan satu spesimen perlu ditindaklanjuti dengan penelitian untuk mengetahui apakah spesies tersebut memiliki populasi yang masih bertahan, bagaimana persebarannya, serta seperti apa kondisi habitat yang mendukung kehidupannya.
“Apakah ada spesies unik lain yang masih mendiami Sungai Winongo?” menjadi pertanyaan penting yang perlu dijawab melalui penelitian keanekaragaman hayati ikan asli (native fish) di sepanjang aliran sungai.
Pendataan dapat mencakup identifikasi spesies, lokasi temuan, kondisi habitat, kualitas air, serta potensi ancaman terhadap kelangsungan hidup ikan asli.
Melalui penelitian tersebut, Sungai Winongo diharapkan tidak hanya dipandang sebagai aliran air yang melintasi kawasan perkotaan, tetapi juga sebagai ekosistem yang menyimpan kekayaan hayati dan perlu dijaga keberlanjutannya.
Temuan Melem Batu menjadi pengingat bahwa sungai perkotaan masih berpotensi menyimpan kehidupan satwa air yang belum banyak diketahui. Upaya penelitian dan konservasi menjadi penting agar keberadaan ikan asli di Sungai Winongo dapat terdokumentasi dengan baik dan tetap lestari. (Red).






