Menguatkan Potensi Bawaan Manusia untuk Kembali Fitri

Artikel486 Dilihat

Menguatkan Potensi Bawaan Manusia untuk Kembali Fitri

Hasan Maftuh., M.A

(Dosen UIN Salatiga)

Manusia pada dasarnya memiliki bawaan dalam dirinya tentang fitrah kebaikan. Potensi baik ini menjadi modal dasar manusia untuk berhubungan dengan yang lain. Fitrah kebaikan ini diwujudkan dengan potensi “akal pengetahuan” untuk membedakan atau membandingan hal baik dan buruk. Akan tetapi, kebaikan ini bisa hilang begitu saja jika dipengaruhi oleh banyaknya perihal negatif yang bersumber dari luar diri manusia dan lingkungan.

Secara psikologis potensi baik manusia muncul secara natural untuk merespon berbagai macam fenomena yang muncul dari luar dirinya. Fitrah kebaikan dalam diri manusia harus diasah secara terus menerus. Agar terjaga secara konsisten, maka ada upaya yang perlu dilakukan. Salah satunya adalah jika manusia ada dalam level kesadaran berpikir. Kesadaran ini akan mengajak manusia untuk selalu ingat akan kebaikan yang harus manusia ciptakan.

Ikhtiar Menuju Fitrah Kebaikan

Seiring dengan perkembangan pribadi seseorang maka lingkungan menjadi faktor penting dalam mempengaruhi kesehariannya. Lingkungan berperan penting dalam membentuk diri seseorang. Mampu melahirkan cara pandangan tertentu yang berpengaruh pada perilaku seseorang. Maka pengalaman seseorang kadang menjadi guru terbaik dan pengalaman ini berasal dari lingkungan dimana seseorang tumbuh berkembang.

Fitrah kebaikan dapat dijaga dengan upaya keseharian yang berhubungan dengan hati dan pikirannya. Dalam konteks filsafat, maka indra manusia perlu dijaga dan dirawat dengan baik. Maka, sebetulnya puasa menjadi sarana untuk menjaga hati dan pikiran. Puasa adalah mendidik manusia agar selalu memiliki kesadaran yang baik. Ketika akan berbuat negatif, maka manusia menjadi sadar bahwa apa yang akan dilakukan kurang baik.

Puasa berarti menahan sesuatu berasal dari konsep al imsak yang artinya juga menahan. Menahan ini adalah berkaitan dengan hawa nafsu. Manusia yang pandai mengelola dan menawahan hawa nafsu inilah sebaik-baiknya hamba. Bulan Ramadhan merupakan sekolah bagi manusia untuk memperbaiki kualitas mengelola nafsu.

Hati dan pikiran dapat rusak kalau manusia masih didominasi hawa nafsu yang selalu muncul kapanpun dalam dirinya. Puasa adalah ritual tirakat yang oleh Masyarakat Jawa diajarkan untuk memperbaiki kualitas hati dan pikiran. Sehingga, puasa Ramadhan menjadi ruang individu untuk mengelola batin akibat dari pengaruh lingkungan yang selalu berubah. Budaya berpikir hendonis dan ingin menang sendiri akibat dari perkembangan berpikir masyarakat modern. Hal ini harus diperhatikan lebih serius. Perubahan budaya yang semakin cepat akan mempengaruhi pola pikir manusia melahirkan perilaku kurang baik.

Momentum Ramadhan dan Perbaikan Etika

Etika adalah istilah yang sering disampaikan oleh para filsuf sebelum manusia berpikir tentang ekonomi, politik dan lain sebagainya. Etika merupakan fondasi yang harus diperkuat posisinya. Karena dimanapun manusia perlu unggul moral dan etikanya agar memiliki karakter yang baik. Bulan Ramadhan ini merupakan momentum untuk memperbaiki etika.

Ramadhan menjadi tempat belajar seseorang yang gurunya langsung dari penciptanya yang didalamnya ada pembelejaran sabar, iklas, berjuang dan etika-etika yang lain. Ini menjadi kunci sebetulnya manusia melewati fase selanjutnya yakni pasca bulan Ramadhan sampai dipertemukan dengan Ramadhan tahun berikutnya.

Sekolah etika ini penting, mengingat dewasa ini moral Masyarakat mengalami defisit moral. Banyak perilaku korupsi misalnya yang ini berkaitan erat dengan kesadaran etika seseorang. Etika dalam konteks filsafat yang lebih mendalam menjadi dasar perilaku manusia. Jika pengetahuan tentang etika ini dimiliki, maka fitrah kebaikan akan semakin kental dimiliki.

Pemikiran filsuf tentang etika, bahkan tokoh tasawuf sekaligus dalam dunia Islam memposisikannya sangat mulia. Ajaran puasa dalam Islam juga perlu diambil nilai-nilainya karena selalu mengajarkan tentang kebaikan dan mengajar manusia kembali pada fitrahnya yang baik. Ini tidak bicara manusia dalam tataran individu saja, tetapi manusia sebagai makhluk sosial yang perlu diatur dalam bingkai Masyarakat Indonesia.

Maka Indonesia di pada kesempatan Ramadhan ini harus memanfaatkan betul nilai-nilai yang terkadung dalam spiritualitas puasa. Dampaknya begitu besar, jika memang momentum ini dimanfaatkan untuk memberikan kesadaran akan terwujudnya cita-cita bangsa yakni keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran bagi semuanya.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses