
Kalikamal ~ Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Alma Ata memberikan edukasi pencegahan perundungan atau bullying kepada siswa SD Kalikamal, Rabu, 2 September 2026. Kegiatan yang diketuai Dyas Prima Darmawan itu mengenalkan tiga langkah sederhana, yakni “Berani, Peduli, dan Melapor”, agar siswa mampu mengenali sekaligus merespons tindakan perundungan di lingkungan sekolah.
Edukasi dikemas melalui permainan peran, gambar, video pendek, hingga sesi tanya jawab sehingga materi lebih mudah dipahami anak-anak. Program tersebut dilaksanakan dengan arahan dan bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Isti Chana Zuliyati, S.ST., M.Keb.
Suasana kelas selama kegiatan berlangsung berbeda dari pembelajaran biasa. Para siswa terlibat dalam permainan peran sekaligus diajak mengenali berbagai bentuk perilaku yang dapat menyakiti teman.
Mahasiswa KKN Universitas Alma Ata memilih pendekatan interaktif karena menilai anak usia sekolah dasar lebih mudah memahami pesan melalui permainan, cerita, gambar, dan contoh perilaku sehari-hari dibandingkan hanya melalui ceramah.
“Kami tidak ingin mereka takut mendengar kata bullying. Kami ingin mereka paham bahwa setiap teman berhak diperlakukan dengan baik,” ujar salah satu mahasiswa KKN Universitas Alma Ata.
Kenalkan Bentuk Bullying yang Kerap Dianggap Sepele
Dalam pemaparannya, mahasiswa menjelaskan bahwa perundungan tidak selalu berbentuk kekerasan fisik seperti memukul. Ejekan, pemberian julukan yang menyakitkan, pengucilan, hingga menyebarkan aib orang lain juga termasuk perilaku yang dapat menyakiti seseorang.
Para siswa kemudian diajak membedakan perilaku yang baik dengan tindakan yang berpotensi menyakiti orang lain melalui media gambar dan video pendek.
Sesi tanya jawab berlangsung interaktif. Sejumlah siswa mengaku pernah mengalami ejekan maupun melihat temannya dijauhi tanpa alasan yang jelas.
Kesadaran mengenai perilaku perundungan juga muncul ketika salah seorang siswa kelas 4 mengakui pernah mengejek temannya.
“Ternyata aku pernah ngejek teman, Mbak. Aku minta maaf sekarang,” ujar siswa tersebut.
Pernyataan itu kemudian disambut tepuk tangan dari mahasiswa KKN dan guru yang mengikuti kegiatan.
Menurut mahasiswa KKN, edukasi tersebut tidak bertujuan menghakimi siswa yang pernah melakukan kesalahan, tetapi membangun pemahaman mengenai pentingnya memperlakukan teman dengan baik.
“Kami tidak datang untuk menghakimi, melainkan mengingatkan bahwa kebaikan itu sederhana. Tidak mengejek teman, tidak mengucilkan, dan berani membela yang benar—itu sudah cukup untuk mengubah suasana sekolah,” ungkap salah satu mahasiswa.
Ajarkan Tiga Langkah “Berani, Peduli, dan Melapor”
Salah satu bagian utama kegiatan tersebut adalah pengenalan tiga langkah menghadapi perundungan, yakni “Berani, Peduli, dan Melapor”.
Melalui konsep tersebut, siswa diajarkan untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Mereka juga diminta menjauh apabila berada dalam situasi berbahaya, membantu teman yang menjadi korban, serta segera melaporkan kejadian kepada guru atau orang tua.
Nilai kasih sayang, toleransi, tanggung jawab, dan kejujuran turut disampaikan sepanjang kegiatan. Edukasi tersebut diarahkan tidak hanya untuk membantu siswa memahami perundungan, tetapi juga mendorong pembentukan karakter dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam bahan kegiatan disebutkan, merujuk data Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), kasus perundungan masih menjadi salah satu persoalan kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena anak-anak usia sekolah dasar berada pada tahap pembentukan karakter dan pola interaksi sosial.
Perundungan yang terus dibiarkan juga dapat berdampak terhadap kondisi psikologis korban, termasuk penurunan rasa percaya diri dan prestasi akademik hingga munculnya trauma berkepanjangan. Sementara pelaku yang tidak mendapatkan intervensi sejak dini berisiko mempertahankan pola perilaku agresif.
Karena itu, mahasiswa KKN Universitas Alma Ata memilih pendekatan preventif dengan menanamkan pemahaman bahwa setiap anak memiliki hak untuk merasa aman dan nyaman ketika berada di sekolah.
Siswa SD Kalikamal Ucapkan Ikrar Antibullying
Pada akhir kegiatan, seluruh siswa diajak berdiri bersama dan mengucapkan ikrar untuk tidak melakukan perundungan serta menjaga persahabatan di lingkungan sekolah.
“Aku berjanji tidak akan membully. Aku akan jadi teman yang baik. Aku akan melindungi temanku,” ucap para siswa secara bersama-sama.
Mahasiswa KKN Universitas Alma Ata berharap edukasi antiperundungan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Nilai-nilai yang telah diperkenalkan diharapkan dapat diterapkan siswa dalam pergaulan sehari-hari dan berkembang menjadi kebiasaan positif di lingkungan sekolah.
“Anak-anak adalah cermin masa depan. Jika kita ingin Indonesia yang lebih baik di kemudian hari, kita harus mulai dari mereka sekarang. Sekolah yang bebas perundungan adalah sekolah yang melahirkan generasi berkarakter,” ujar Rina.
Inisiatif mahasiswa KKN tersebut juga mendapat apresiasi dari guru SD Kalikamal. Edukasi mengenai perundungan dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan seiring semakin kompleksnya interaksi sosial anak.
“Edukasi seperti ini sangat penting. Anak-anak perlu diingatkan terus-menerus karena pergaulan mereka semakin kompleks,” ujar salah satu guru SD Kalikamal.
Mahasiswa KKN Universitas Alma Ata berharap kegiatan tersebut menjadi langkah awal membangun lingkungan pendidikan yang lebih aman dan menyenangkan, tidak hanya di SD Kalikamal tetapi juga dapat berkembang ke sekolah lain.
“Stop bullying! Jadilah teman yang baik, saling menghargai, dan ciptakan sekolah yang penuh persahabatan,” pungkas mahasiswa KKN Universitas Alma Ata.






