
Batang, medianasional.id
Dalam rangka melestarikan budaya leluhur yang ada didaerahnya agar tetap lestsri, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang menggelar pelatihan Tari Batik Gringsing dan Simo Gringsing kepada para pelajar baik itu ditingkat SD hingga tingkat SMA.
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, pada hari pertama peserta dibekali dengan teori terkait tari -tarian itu dan dihari keduanya mereka langsung mempratikan gerakan daripada Tari Simo dan Tari Batik Gringsing yang merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki Kabupaten Batang.
Para peserta dari tingkat SD hingga SMA dan juga termasuk sanggar tari sejumlah 50 orang, kegiatan berlangsung di Hotel Dewi Ratih Kabupaten Batang Senin, ( 17/10/2022).
Dalam kesempatan itu, Kepala Disdikbud Batang Achmad Taufik mengatakan, dalam rangka menggali potensi generasi millenial di bidang seni tari, maka digelar pelatihan secara kolaboratif, sehingga nantinya akan muncul regenerasi kedua tari tersebut.
Menengok kebelakang, bahwa dengan Tari Simo gringsing dan Tari Batik Gringsing Kabupaten Batang pernah jadi juara umum nasional, dengan adanya pelatihan seperti kita bisa melestarikan tari -tarian ini dan juga bisa meningkatkan pretasi seni tari.
“Kedua tari tradisional tersebut pernah ditarikan oleh warga dari daerah lain dalam suatu even,” ungkap Kadis dan sangat mengapresiasi.
Lebih lanjut, Ahmad Taufik menjelaskan, bahwa kedua tarian tersebut mendapat perhatian istimewa dari daerah lain. Meskipun tari modern digandrungi sebagian generasi muda, namun para sesepuh tidak mengkhawatirkan, sebab masih banyak generasi millenial yang menekuni tari tradisional.
Sebagai salah satu bukti, bahwa pagi ini para pendidik SD tertarik untuk mengikuti pembinaan ini. Artinya mereka ingin mengetahui lebih dalam sejarah kedua tari tersebut untuk selanjutnya diajarkan kepada anak didiknya. Kedua tari itu mulai dikenalkan sejak 2018 dan rencananya akan dijadikan materi muatan lokal di tiap sekolah.
“Kita sudah punya tari Babalu dan kedua tari itu untuk memperkaya khazanah budaya Kabupaten Batang ,” bebernya.
Sebagai upaya pengenalan sekaligus pelestarian hampir ditiap agenda Pemda, tari Batik Gringsing dan Simo Gringsing selalu dipertontonkan kepada khalayak bersamaan tari Babalu.
Sementara itu, Yoyok Bambang Priyambodo seniman dari Semarang mengungkapkan bahwa kedua tari tradisional itu berasal dari cerita rakyat dan artefak yang ada, ini menunjukkan kekayaan intelektual milik Kabupaten Batang.
Menurut cerita rakyat, Ki Ageng Gringsing bisa berubah jadi Simo atau harimau dan berdasarkan sejarah di Kabupaten Batang ada arca Sri Vasudara Asinjang Angagem Batik Gringsing, dari dua peristiwa itu muncullah kedua tari tradisional itu.
“Ini menunjukkan bahwa Kabupaten Batang tidak hanya sebagai tempat singgah bagi pengemudi yang mengarah ke Jawa Barat maupun Jawa Timur. Namun lebih dari itu, bisa menjadi tempat untuk menyaksikan kedua seni tari tersebut.
Ia juga berharap, setelah adanya pelatihan seperti ini, mereka agar diberi ruang untuk mementaskannya dan ke depan Pemkab Batang bisa membangun gedung pementasan sebagai tempat mengapresiasi.
Senada dengan Kepala Disdikbud, akan lebih bagus jika kedua tari tersebut dimasukkan sebagai materi muatan lokal di semua jenjang pendidikan.
“Tapi ya semua kembali ke kebijakan pimpinan daerah,” pungkasnya.






