Legenda Dibalik Keindahan Telaga Ngebel Ponorogo

Jawa Timur1072 Dilihat

Ponorogo, medianasional.id – Telaga ngebel Ponorogo merupakan objek wisata yang tak pernah sepi pengunjung. Terletak di dataran tinggi, membuat lokasi sekitar telaga bersuhu dingin, terutama saat musim kemarau kering, atau masyarakat sekitar menyebutnya bediding.

Dengan luas sekitar 150 hektar, wisatawan bisa olahraga atau jogging mengelilingi telaga dengan ditemani pemandangan indah telaga dan pegunungan. Di sekitar telaga pun banyak warung warung makan yang bisa disinggahi dengan harga yang cukup murah, dan jika ingin bermalam, hotel juga banyak di sekitar telaga ngebel Ponorogo.

Namun dibalik keindahan telaga ngebel Ponorogo, ada sebuah cerita rakyat yang cukup mistis, bahkan masih dianggap sakral oleh sebagian masyarakat sampai sekarang. Legenda yang terkenal itu adalah tentang naga baruk klinting. Dan untuk menghormati cerita itu, sekaligus memperkuatnya, Bank Jatim membangun patung naga di telaga ngebel Ponorogo melalui program Cerita. Lalu seperti apa sabenarnya cerita asal usul telaga ngebel?

 

Legenda Telaga Ngebel Ponorogo

Dulu sebelum terbentuknya telaga ngebel Ponorogo, ada sepasang suami istri yang hidup di suatu desa. Sang istri tersebut hamil dan melahirkan, akan tetapi, mereka terkejut karena yang lahir bukanlah bayi manusia, namun seekor ular. Melihat kehadiran sosok aneh, pasangan suami istri tersebut memilih untuk mengasingkan diri di puncak gunung, guna menghindari omongan warga. Pasangan tersebut setiap hari selalu berdoa agar anaknya kelak berubah menjadi wujud manusia.

Akhirnya, Doa sepasang suami istri tersebut didengar oleh sang dewa, sang dewa mampu merubah wujud ular tersebut menjadi manusia. Sang dewa mampu merubah baru klinting jadi manusia dengan syarat, ia harus bertapa dengan melingkarkan seluruh tubuhnya di gunung selama 300 tahun. Baruk Klinting pun patuh dan menyanggupi permintaan dewa tersebut. Namun, panjang tubuh ular tersebut masih kurang sejengkal untuk bisa sempurna melingkari gunung, akirnya dia menjulurkan lidahnya agar bisa memenuhi kekurangan tersebut.

Namun ternyata, persyaratan yang diberikan oleh dewa masih kurang, sang dewa menyuruh ayah Baruk Klinting untuk memotong lidah baruk klinting. Akhirnya sang ayah memotong lidah ular tersebut dan baruk klinting pun tidak keberatan. Di akhir masa bertapanya, ternyata bertepatan dengan acara pernikahan salah satu orang terpandang di desa tersebut. Warga desa ikut bahagia dengan acara tersebut dan menggelar pesta rakyat.

Akhirnya para warga desa tersebut mencari sumber daya makanan dan berburu ke hutan. Selama berburu, mereka kesulitan mencari hewan buruan, dan akhirnya beristirahat di bawah salah satu pohon. Tak sengaja, mereka menancapkan parang ke akar pohon, dan tak disangka, akar pohon itu malah mengeluarkan darah. Akar pohon tersebut ternyata bagian dari tubuh baruk klinting yang bertapa. Namun melihat itu semua, para warga malah senang dan akhirnya membawa banyak daging untuk dimasak bersama sama.

Ketika Baruk Klinting selesai bertapa, dia sudah jadi manusia dan turun ke desa untuk berbaur dengan masyarakat. Namun ketika bertemu masyarakat desa, dia malah dikucilkan karena kesulitan berbicara akibat lidahnya yang dipotong dan tubuhnya penuh luka karena sayatan parang penduduk desa. Baruk klinting kelaparan, namun semua warga desa merasa jijik dan acuh, sampai ada seorang nenek yang mau mempersilahkannya untuk makan. Baruk Klinting pun terharu dan berterima kasih, karena masih ada orang baik yang mau menolongnya.

Akhirnya, dia berpamitan sambil berpesan ke nenek tersebut bahwa dia harus menyiapkan sebuah perahu, dan harus cepat naik ke perahu itu, ketika ada rebut rebut di desa tersebut.

Akhirnya Baruk Klinting mendatangi pesta kawinan tersebut, dan menantang para penduduk desa untuk mencabut lidi yang ia tancapkan di daging hasil buruan mereka. Namun, tidak ada warga yang mampu mencabutnya, lalu Baruk Klinting mencabut lidi tersebut, dari lidi tersebut keluarlah air yang membanjiri desa. Semua orang tenggelam, kecuali nenek yang menolong Baruk Klinting, Baruk Klinting sendiri kembali ke wujud ular dan bertapa di dasar telaga ngebel Ponorogo.

Desa yang tenggelam itulah yang menjadi Telaga Ngebel Ponorogo sampai sekarang ini. Dibalik cerita mistisnya, telaga ngebel merupakan tempat nongkrong pilihan para anak muda atau pasangan yang ingin berbulan madu. Telaga ini merupakan salah satu wisata Ponorogo favorit para pendatang.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses