Kabid PKLK Disdik Jabar Tawarkan Solusi Sesuai Aturan Dapodik

Jawa Barat628 Dilihat

Bandung, Medianasional.id – Kepala Bidang Pendidikan Khusus Layanan Khusus (PKLK) Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Deden Saepul Hidayat, setelah menerima audensi gabungan ormas dan LSM menjelaskan aksi kedua audensi dengan sejumlah Ormas dan LSM.

Mereka minta untuk dihadiri oleh Plh Kadisdik Jabar, Deden mengatakan, “ketidak hadiran Kadisdik bisa diwakilkan oleh kita dan ini sudah saya sampaikan apa yang diarahkan oleh pak Kadis. Arahan pak Kadis sudah jelas, yang pertama  kalau PPDB mengikuti sistem mekanisme dan dari awal juga ketika bertemu saya audensi sampai malam saya sampaikan bahwa PPDB harus bersih, akuntabel, tentunya sesuai dengan mekanisme yang ada,” jelasnya.

“Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA/SMK dan SLB setiap tahunnya tidak ada istilah titipan atau tekanan dari pihak manapun. Ketidak hadiran Plh Kadisdik Jabar karena ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan. Terkait PPDB kita harus faham bahwa pemetaan sekolah itu ada jumlah batas batasnya, kita (Disdik Jabar) tidak bisa merubah sistem yang ada, seperti di satu sekolah ada 12 rombongan belajar (Rombel) lalu kita tambah menjadi 14 rombel, dan tambahan 2 rombel ini tidak akan diakui dari sisi ijazahnya maupun BOSnya,” ujarnya.

Lanjut Deden, “kita (Disdik Jabar-red) ingin membantu, tapi melanggar aturan, makanya tetap 12 rombel dan dalam satu rombelnya 36 siswa. Kalau tahun lalu masih ada kelonggaran lebih dari 36/rombel, tapi tahun sekarang aturan dapodiknya tidak bisa lebih dan kasihan dengan siswanya kalau Bos tidak dibayarkan dan Ijazahnya tidak dapat kan kasihan juga,” lanjutnya.

“Kalau memang yang mereka perjuangkan dari keluarga ekonomi tidak mampu dan itu punya data daftar ke sekokah negeri tidak diterima, tinggal lapor ke kita( Disdik Jabar) akan menyalurkan siswa tersebut ke sekolah swasta. Dari sisi biaya kita akan bantu, memang tahun lalu kita bantu Rp 2 juta dan sekarang ada formilasi baru yang lebih leluasa, kita membuka sekolah menengah terbuka dan itu bukan coba coba, karena SMA terbuka dirintis dari tahun 2014,” paparnya.

“Kalau sekarang hanya dua SMA terbuka yaitu SMA 10 dan SMA 4, maka kita akan coba buka lagi dengan kesiapan gurunya. Tujuan SMA terbuka itu empat H. Yang pertama anak anak secara geografis bermasalah. Yang kedua secara ekonomi juga bermasalah. Ketiga anak anak dari jalur kemiskinan. Dan yang keempat karena budaya misalnya pesantren dan sebagainya,” pungkasnya.

Posting Terkait

ADVERTISEMENT
Konten berikut adalah iklan platform MGID, medianasional.id tidak terkait dengan isi konten.

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses