Debit Air Bendung Juwero Alami Penyusutan Drastis, Begini Dampaknya bagi Irigasi dan Nasib Petani

KENDAL–MEDIANASIONAL.ID–Memasuki puncak musim kemarau, debit air Bendungan Juwero di Kabupaten Kendal mulai mengalami penyusutan drastis. Meski kondisinya masih lebih baik dibanding musim kemarau ekstrem sekitar lima tahun lalu, berkurangnya pasokan air dari hulu mulai berdampak pada pengaturan distribusi irigasi bagi lahan pertanian di sejumlah kecamatan di Kabupaten Kendal.

Petugas Operasional Bendung Juwero, Arfiyanto, mengatakan debit sungai yang masuk ke bendungan saat ini mencapai sekitar 9,6 meter kubik per detik. Aliran tersebut kemudian dibagi ke dua saluran irigasi utama, masing-masing sekitar 4,8 meter kubik per detik untuk memenuhi kebutuhan air pertanian.

“Kalau sekarang debit sungainya sekitar 9,6 meter kubik per detik. Dibagi ke saluran kanan dan kiri, masing-masing sekitar 4,8 meter kubik per detik,” ujar Arfiyanto, Rabu (15/7/2026).

Menurutnya, apabila musim kemarau berlangsung lebih lama tanpa hujan di wilayah hulu, debit air diperkirakan akan terus menurun. Meski demikian, kondisi saat ini belum separah kemarau ekstrem yang terjadi pada 2021.

“Yang paling rendah pernah sekitar lima tahun lalu. Waktu itu total debitnya tinggal sekitar lima meter kubik per detik, sehingga masing-masing saluran hanya menerima sekitar 2,5 meter kubik per detik. Kondisi itu jauh lebih berat dibanding sekarang,” katanya.

Arfiyanto menjelaskan, saat debit air turun hingga lima meter kubik per detik, kebutuhan irigasi di wilayah hilir tidak dapat terpenuhi secara optimal. Dampaknya, petugas harus menerapkan sistem pembagian air secara bergiliran agar seluruh daerah layanan tetap memperoleh pasokan meski tidak dalam waktu yang bersamaan.

“Saat debit sekecil itu, kebutuhan di bawah tidak mencukupi. Petugas di pintu pembagi harus mengatur giliran air agar semua wilayah tetap mendapat bagian,” jelasnya.

Dari Bendung Juwero, air irigasi disalurkan ke sejumlah wilayah pertanian, meliputi Kecamatan Ringinarum, Gemuh, sebagian Kangkung, Cepiring, Patebon, hingga Pegandon melalui jaringan saluran dan pintu pembagi yang dijaga petugas.

Menurut Arfiyanto, petugas bendung tidak memiliki kewenangan untuk menambah debit air apabila pasokan dari hulu berkurang. Upaya yang dapat dilakukan hanyalah mengatur distribusi agar air tetap terbagi secara merata kepada seluruh wilayah layanan.

“Kalau debit dari hulunya kecil, kami tidak bisa membesarkan aliran. Yang bisa dilakukan hanya mengatur pembagiannya supaya semua daerah layanan tetap mendapatkan air,” tegasnya.

Ia berharap hujan segera turun di kawasan hulu sehingga debit Bendung Juwero kembali meningkat. Dengan pasokan air yang lebih besar, kebutuhan irigasi petani, khususnya untuk tanaman padi, dapat terpenuhi secara optimal sehingga potensi kekurangan air hingga risiko gagal panen dapat dihindari.(#)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses