Ponorogo, medianasional.id – Upaya meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus menjaga produktivitas pertanian terus dilakukan di wilayah pedesaan. Salah satunya melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat bertajuk “Inovasi Pertanian: Cara Efektif Jaga Kelembapan Tanah dengan Mulsa Plastik” yang dilaksanakan di Desa Mrayan, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo.
Kegiatan tersebut dipimpin oleh Dr. Parwi, SP., MP., dosen Universitas Darussalam Gontor (Unida Gontor), dan mendapatkan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun Anggaran 2026 melalui skema Pemberdayaan Desa Binaan.
Desa Mrayan dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki potensi pertanian yang cukup besar, namun pada saat yang sama menghadapi tantangan dalam pengelolaan air, khususnya pada periode dengan curah hujan rendah. Kondisi tersebut mendorong perlunya penerapan teknologi budidaya yang mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air dan mempertahankan kelembapan tanah.
Dalam kegiatan ini, masyarakat dan kelompok tani diperkenalkan dengan pemanfaatan mulsa plastik sebagai teknologi sederhana dan aplikatif dalam budidaya tanaman. Penggunaan mulsa diharapkan dapat mengurangi penguapan air dari permukaan tanah, menjaga kelembapan tanah lebih lama, menekan pertumbuhan gulma, serta menciptakan kondisi lingkungan yang lebih optimal bagi pertumbuhan tanaman.
Ketua tim pengabdian, Dr. Parwi, SP., MP., menjelaskan bahwa inovasi pertanian tidak selalu harus menggunakan teknologiyang mahal dan kompleks. Teknologi sederhana yang sesuai dengan kebutuhan petani justru dapat memberikan manfaat yang lebih cepat dirasakan oleh masyarakat.
“Melalui kegiatan ini kami ingin mendorong petani agar semakin memahami bahwa efisiensi air dapat dilakukan melalui teknologi budidaya yang sederhana, salah satunya dengan penggunaan mulsa plastik. Harapannya, teknologi ini dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus mendukung produktivitas tanaman,” ujar Dr. Parwi.
Menurutnya, perubahan pola iklim dan ketidak pastianketersediaan air menjadi tantangan yang perlu diantisipasi oleh petani. Karena itu, penerapan teknologi konservasi air di tingkat lahan menjadi salah satu langkah penting untuk membangun sistem pertanian yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Kegiatan tersebut mendapat respons positif dari masyarakat, khususnya Kelompok Tani Hutan (KTH) Desa Mrayan. Suparno, SH., selaku Ketua Kelompok Tani Hutan Enggal Mulyo Lestari, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan wawasan baru bagi petani mengenai pentingnya efisiensi air dalam kegiatan budidaya.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga dapat memacu peningkatan teknologi pertanian di Desa Mrayan, terutama teknologi yang dapat membantu petani menggunakan air secara lebih efisien,” kata Suparno.
Ia menambahkan, kondisi geografis Desa Mrayan yang berada di wilayah perbukitan membuat pengelolaan sumber daya air menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung keberlanjutan usaha tani masyarakat. Oleh karena itu, teknologi yang mampu mempertahankan ketersediaan air di sekitar perakaran tanaman dinilai sangat relevan untuk diterapkan.
Penerapan mulsa plastik juga diharapkan menjadi bagian dari strategi adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim. Dengan semakin efisiennya penggunaan air, petani memiliki peluang untuk mempertahankan pertumbuhan dan produktivitas tanaman meskipun menghadapi kondisi ketersediaan air yang terbatas.




