Dorong Pertanian Modern, Tim Dosen Universitas Darussalam Gontor dan Universitas Kadiri Manfaatkan Panel Surya untuk Budidaya Jagung Manis di Ponorogo

Artikel1509 Dilihat

PONOROGO, medianasional.id – Sektor pertanian di Kabupaten Ponorogoterus bergerak menuju modernisasi dan efisiensi energi. Melalui program pendanaan Hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun Anggaran 2026, tim pengabdian masyarakat yang diketuai oleh Umi Isnatin, S.P., M.P. menggulirkan inovasi teknologi berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) di wilayah Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo. Inovasi berupa pemanfaatan teknologi panel surya (solar panel) ini diterapkan secara khusus untuk menunjang efisiensi budidaya jagung manis pada kelompok tani Poktan Sidodadi.

Selain Umi Isnatin, S.P., M.P. sebagai ketua pengusul, program intervensi teknologi ini didukung oleh anggota tim multi disiplin yang berpengalaman, yaitu Dr. Sisca Mayang Phuspa, M.Sc., Latiefa Rusli, S.E., M.E., dan Ir. Lolyka Dewi Indrasari, S.T., M.T. Integrasi kepakaran ilmu pertanian, teknologi, hingga manajemen ekonomi ini bertujuan agar implementasi teknologi tidak hanya berhasil secara teknis, tetapi juga memberi dampak finansial yang nyata bagi para petani.

       

Solusi Hemat Biaya dan Ramah Lingkungan

Sistem panel surya yang diinstalasi di lokasi Poktan Sidodadi difokuskan untuk menyuplai daya listrik mandiri yang menggerakkan pompa irigasi serta sistem pendukung budidaya jagung manis lainnya. Sebelum adanya teknologi ini, petani sangat bergantung pada pompa bermotor Bahan Bakar Minyak (BBM) atau jaringan listrik konvensional yang kerap menambah pembengkakan biaya operasional per musim tanam.

“Penerapan teknologi ramah lingkungan ini menjadi langkah krusial untuk menekan biaya produksi petani jagung manis di Ngindeng. Dengan menggunakan tenaga surya, pasokan air dan perawatan tanaman menjadi lebih stabil tanpa terbebani biaya BBM yang fluktuatif,” ujar Ketua Tim Pengusul, Umi Isnatin, S.P., M.P.

Dampak Positif Bagi Poktan Sidodadi

Melalui pendampingan berkelanjutan dari tim dosen pengusul, keterlibatan Poktan Sidodadi tidak hanya sebatas penerima manfaat, tetapi juga dilatih dalam pengoperasian dan perawatan berkala instalasi panel surya.

Perubahan signifikan sebelum dan setelah penerapan panel surya terlihat pada berbagai indikator operasional.

Ketergantungan Energi: Ketergantungan pada BBM atau listrik konvensional beralih sepenuhnya menjadi Energi Terbarukan bersumber dari matahari; Biaya Operasional Irigasi: Biaya irigasi yang sebelumnya tinggi akibat pembelian BBM secara rutin, kini beroperasi secara jauh lebih hemat untuk jangka Panjang; Keandalan Pengairan: Pengairan yang sebelumnya terbatas oleh biaya dan ketersediaan BBM, kini dapat dilakukan secara kontinu selama ada paparan sinar matahari; Dampak Lingkungan: Emisi karbon dari mesin pompa BBM berhasil ditekan sepenuhnya hingga mencapai status bebas emisi (Zero Carbon).

Anggota tim pengusul, Latiefa Rusli, S.E., M.E., menambahkan bahwa efisiensi biaya operasional ini secara langsung akan meningkatkan rasio keuntungan (profit margin) para petani saat panen jagung manis tiba. Sementara Dr. Sisca Mayang Phuspa menekankan pentingnya adopsi teknologi berbasis sains yang tepat guna agar sektor pertanian lokal siap menghadapi tantangan perubahan iklim.

Program hibah dari Kemendiktisaintek 2026 ini diharapkan dapat menjadikan Poktan Sidodadi di Desa Ngindeng, Sawoo, sebagai percontohan (role model) desa mandiri energi berintegrasi pertanian modern di Kabupaten Ponorogo dan sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses