INDRAMAYU, medianasional.id – Fenomena cuaca ekstrem El Nino dan kemarau panjang memicu krisis serius di sektor agraria Kabupaten Indramayu. Berdasarkan data Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, kekeringan parah mengakibatkan sedikitnya 10.670 hektare sawah mengalami gagal panen (puso).
.
Kondisi memprihatinkan ini mayoritas melanda tanaman padi yang baru memasuki fase pertumbuhan awal, yakni sekitar 30 hari setelah tanam (HST). Tanaman yang sangat membutuhkan pasokan air tersebut mati kekeringan sebelum sempat berkembang.
.
Wilayah Terdampak dan Kerugian Petani
Bencana kekeringan ini tersebar di beberapa wilayah kecamatan kunci lumbung padi Indramayu, meliputi:
Bencana kekeringan ini tersebar di beberapa wilayah kecamatan kunci lumbung padi Indramayu, meliputi:
- Kecamatan Terisi
- Kecamatan Losarang
- Kecamatan Kroya
- Kecamatan Kandanghaur
- Kecamatan Gabuswetan
Akibatnya, para petani lokal terancam gulung tikar dan mengalami kerugian finansial yang masif. Seluruh modal yang telah digelontorkan untuk biaya pengolahan tanah, pembibitan, hingga pemupukan awal dipastikan hangus tanpa menghasilkan perputaran ekonomi.
.
Sektor Tambak Ikut Lumpuh
Dampak kemarau panjang ternyata tidak hanya memukul sektor pertanian instansi darat, tetapi juga melumpuhkan sektor perikanan tambak.
Dampak kemarau panjang ternyata tidak hanya memukul sektor pertanian instansi darat, tetapi juga melumpuhkan sektor perikanan tambak.
Lukin (40), seorang petambak asal Desa Pangkalan, mengungkapkan bahwa kondisi air tambak saat ini menjadi sangat buruk akibat kadar pH yang terlalu tinggi atau “tua” (istilah setempat menyebut air tambak menjadi pahit). Minimnya volume air membuat hasil panen ikan merosot tajam.
.
“Kami kesulitan melakukan pengelolaan air karena pH-nya sudah tua. Jadi setelah dipanen, terpaksa lahan tambak dikosongkan dulu sampai menunggu musim rendeng (penghujan) tiba,” ujar Lukin.
.
Kini, baik petani padi maupun petambak di Indramayu hanya bisa pasrah dan menggantungkan harapan mereka pada datangnya musim penghujan agar dapat kembali memulai siklus produksi mereka dari nol.






