Desa Sawah Sumur Mengalami Kekeringan Air Saat Musim Kemarau

Jawa249 Dilihat

Sumenep – Masyarakat Sawah Sumur kecamatan Arjasa kabupaten Sumenep di dusun paling timur pada umumnya pada musim kemarau membutuhkan air untuk mandi dan air minum. Persediaan air sumur di daerah mereka pada musim kemarau sangat minim, kalau kemarau berkepanjangan persedian air di sumur warga setempat akan kering akibat sumber mata air dari sumur warga tersebut tidak bisa bertahan lama, untuk itu harus disediakan air dari hasil pengeboran.

Saat tim Medinas kabupaten Sumenep konfirmasi kepada salah seorang warga yang enggan disebut namanya, Senin (21/08) sekitar pukul 11.00 wib, “sumber mata air di daerah sawah sumur dusun paling timur memang sangat ‎memprihatinkan pada musim kemarau, sebab sumber mata air di sumur warga hampir rata – rata mengalami kekeringan, pada tahun 2016 memang sempat ada bantuan dari pemerintah daerah yang dikoordinasi langsung oleh DPRD Suharinomo dan dikerjakan oleh CV milik Sahrun,S.Pd. Tapi air hanya bisa dimanfaatkan pada musim hujan saja, CV yang melakukan pengerjaan pengeboran dilakukan pada musim hujan sehingga pada saat musim kemarau seperti saat ini air pengeboran tersebut tidak bisa dinikmati oleh warga sekitar, manfaat dari hasil bantuan pengobaran air tersebut tidak ada bedanya dengan sumur warga sekitar yang bisa dimanfaatkan hanya pada musim hujan saja”, terangnya.

Kepala desa melakukan pengeboran kembali untuk menambah kedalaman sumur.

“Bantuan pengeboran yang selama ini dilakukan oleh pemerintah daerah yang di koordinasi langsung oleh Suharinomo hanya asal jadi saja, kenapa demikian karena kami lihat dari tata cara pengerjaan pengeboran air yang sudah selesai pada tahun 2016 yang lalu tidak dapat dinikmati oleh warga sekitar pada musim kemarau saat ini, sehingga dilakukan pengeboran kembali oleh kepala desa Sawah Sumur yakni Samsuri”, ungkapnya.

Keterangan yang diperoleh tim Medinas ke salah seorang warga lain bahwasanya pengeboran yang dilakukan oleh kepala desa Sawah Sumur ‎saat ini adalah langkah yang tepat, “karena hasil dari pengeboran air yang lalu hanya berkedalaman 16 meter sehingga air yang keluar dari hasil pengeboran bermusim. Dan sekarang ditambah kedalamannya sekitar 15 meter lagi untuk menemukan sumber mata air yang lebih besar agar dapat dimanfaatkan kembali oleh warga sekitar. Apabila hasil dari pengeboran yang lama tidak di perdalam maka air yang ada dari hasil pengeboran tidak akan pernah bisa dinikmati oleh warga setempat pada setiap musim kemarau karena kurangnya kedalaman yang dimaksud,” terangnya. (Rasid)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses