Bunda Literasi NTB Ingatkan Mahasiswa: Gunakan AI untuk Maksimalkan Potens

Uncategorized1783 Dilihat

Mataram, NTB – Bunda Literasi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Sinta Agathia M. Iqbal, memberikan pesan mendalam kepada generasi muda dalam menyikapi pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Seminar Nasional bertajuk “Strategi Meraih Beasiswa S1 dan S2 di Luar Negeri di Era AI” yang diselenggarakan oleh UKM Literasi Ilmiah di Gedung Teater Perpustakaan UIN Mataram, Rabu (13/5/2026).
Di hadapan ratusan mahasiswa, Bunda Sinta merefleksikan perbedaan akses informasi antara era 90-an dengan saat ini. Jika dahulu mahasiswa harus berjuang fisik ke perpustakaan atau warnet, kini informasi beasiswa tersedia luas di genggaman.
Namun, kemudahan ini membawa tantangan baru. “Jangan sampai teknologi AI membuat kalian menjadi generasi yang ‘mager’ atau malas. AI seharusnya membantu bekerja lebih maksimal, bukan untuk menggampangkan segala hal tanpa proses berpikir kritis,” tegas Bunda Sinta.
Berdasarkan pengalamannya mendampingi suami saat bertugas sebagai Duta Besar, Bunda Sinta memberikan peringatan keras terkait maraknya manipulasi informasi visual di dunia maya. Banyak calon mahasiswa tergiur brosur kampus luar negeri yang terlihat mewah di pusat kota, namun kenyataannya berada di lokasi terpencil dengan fasilitas minim.
Untuk menghindari penipuan, ia memberikan tiga langkah penting bagi pemburu beasiswa:
Jangan Percaya Satu Klik: Lakukan riset mendalam dan jangan mudah tergiur visual.
Pelajari Silabus: Cek kurikulum dan kebenaran data kampus secara detail.
Hubungi PPI: Lakukan konfirmasi kepada Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di negara tujuan sebagai sumber informasi lapangan paling akurat.
Lebih jauh, Bunda Sinta menyoroti pentingnya literasi digital dalam menghadapi isu sosial di NTB, seperti stunting dan pernikahan usia anak. Ia melihat banyak ibu muda dari Generasi Z yang menelan informasi mentah dari internet tanpa filter, termasuk soal pola asuh dan asupan gizi.
“Literasi bukan sekadar bisa membaca, tapi memahami informasi secara utuh. Masalah stunting terkadang bukan hanya soal ekonomi, tapi juga literasi gizi. Jangan karena kemudahan aplikasi pesan antar makanan, kandungan gizi anak jadi terabaikan,” tambahnya.

Mengakhiri arahannya, Bunda Literasi mengajak mahasiswa untuk menjaga integritas. Ia berharap para pejuang beasiswa tidak hanya fokus pada biaya kuliah, tetapi juga memperkaya literasi budaya dan kesiapan adaptasi hidup di luar negeri agar sukses menjalani masa studi.

 

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses