BATANG, medianasional.Id.
Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Batang mengadakan simulasi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Kamis (17/8/2026). Kegiatan ini digelar di depan Pondok Pesantren Inaaroh, Kecamatan Wonotunggal, dalam rangka merayakan HUT Ke-81 PMI. Simulasi ini bertujuan untuk melatih kesiapan para relawan.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Batang, Darsono, menjelaskan bahwa latihan ini sangat penting untuk membangun kesiapsiagaan menghadapi kemarau. Meski peristiwa karhutla di Batang masih tergolong kecil, pencegahan tetap harus diutamakan karena dampaknya bisa merusak alam dan mengganggu kehidupan warga.
Darsono mencontohkan Kecamatan Subah sebagai wilayah yang memiliki potensi karhutla karena memiliki kawasan hutan jati dan pinus. Di sana bahkan sudah dibentuk tim relawan khusus karhutla. Untuk mempercepat penanganan, Pemerintah Kabupaten Batang menyiagakan petugas pemadam kebakaran (Damkar) selama 24 jam penuh dibantu oleh masyarakat sekitar.
Ketua PMI Batang, Achmad Taufiq, menyampaikan bahwa simulasi ini diikuti oleh banyak kelompok relawan. Mulai dari Korps Sukarela (KSR), Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT), MDMC, LPBI NU, BARA NUSA Rifa’iyah, Pramuka Peduli, hingga PMR Wira tingkat SMA.
Sebelum praktik di lapangan, para relawan mendapatkan pembekalan materi di dalam aula dari pihak BPBD, Perhutani, dan Damkar. Lokasi praktik sendiri memanfaatkan lahan bekas panen jagung yang belum dibersihkan. Lahan ini dinilai cocok untuk simulasi memadamkan api secara langsung dan aman.
Taufiq menambahkan, kasus karhutla di Batang sejauh ini terhitung kecil, salah satunya pernah terjadi di Kecamatan Batur di area pegunungan. Sebaliknya, kasus kebakaran rumah justru sedang meningkat yang mayoritas disebabkan oleh korsleting listrik dan kelalaian saat menggunakan kompor.
Bagi warga yang terkena musibah kebakaran rumah, PMI Batang bekerja sama dengan BPBD, Dinas Sosial, dan Bagian Kesra untuk menyalurkan bantuan dana. Jumlah bantuan ditentukan dari tingkat kerusakan rumah hasil pemeriksaan petugas.
Bantuan modal perbaikan berkisar antara Rp5 juta untuk rusak ringan (seperti bagian dapur), Rp10 juta untuk kerusakan sedang, hingga paket bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) senilai Rp17,5 juta untuk kerusakan berat. Melalui agenda ini, PMI Batang berharap koordinasi antar-organisasi semakin kuat dan relawan bisa bergerak cepat saat terjadi bencana.






