
Oleh : Siti Zulaeka
(Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Peradaban)
Brebes, medianasional.id – Fly Over (FO) Kretek mulai dioperasikan bulan Juli 2017 dilatar belakangi karena adanya lintasan kereta api, sehingga menimbulkan macet ketika kereta api sedang beroperasi. Pembangunan FO Kretek tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya beberapa bulan saja jalan tersebut sudah dapat dilihat layaknya jalan terbang atau biasa disebut dengan Fly Over.
Warga Brebes sangat berantusias terhadap Fly Over karena memudahkannya dalam perjalanan. Selang beberapa bulan bangunan FO beroperasi, kecelakaan terjadi begitu cepat, hingga memakan puluhan nyawa yang tak tahu menahu tentang bangunan Fly Over.
Dilihat dari kacamata agama, bahwa kematian memang sebuah takdir ada baiknya manusia yang hidup mengambil sebuah pelajaran bagi seorang yang meninggal. Jika bicara takdir tentu dalam kehidupan tidak ada yang namanya sebuah problem, pasalnya tentang takdir juga membahas tentang sebab akibat. Takdir bukan semena-mena atas kuasa Tuhan namun manusia yang menjalankan, Tuhan yang memberi hasilnya. Kecelakaan siapa yang bisa menyangka, karena hal tersebut kerap kali terjadi tanpa pengetahuan manusia itu sendiri, akan tetapi waspada adalah hal yang dihadirkan dalam setiap berpergian.
Tujuh bulan setelah Fly Over Kretek dioperasikan telah memakan banyak korban. Bulan Mei 2018 terjadi kecelakaan yang sangat fatal, pasalnya kecelakaan tersebut merenggut nyawa banyak orang yang sedang ngabuburit, karena pada bulan tersebut adalah bulan Ramadhan. Truk dengan angkutan gula pasir membawa kurang lebih 10 ton itu bukan hanya nyawa saja yang terancam namun, rumah warga dan warung-warung, hal ini menyebabkan kerugian yang sangat banyak terhadap masyarakat Bumiayu Brebes. Beberapa hal sering ditanyakan kepada orang-orang berkuasa di daerah Bumiayu. Apakah hal demikian akan terus menjadi bahan cerita untuk daerah-daerah lain? Bahkan Bupati pun belum menindaklanjuti hal sedemikian.
Fly Over Kretek yang dibangun pada tahun 2017 hampir satu tahun semakin memakan korban banyak. Sebenarnya proyek tersebut dilakukan atas dasar mengurangi kemacetan saat hari-hari besar karena pertemuannya dengan perlintasan kereta api dan jalan yang tidak terlalu lebar. Setelah resmi dioperasikan sudah ada puluhan kasus kecelakaan yang terjadi, atas dasar kemanusiaan pemerintah sudah berusaha untuk membuatkan terapi kejut dan jalur penyelamat, dengan tujuan kasus-kasus kecelakaan segera tertimbun.
Pada tanggal 10 Desember 2018 sebuah truk mengalami rem blong dan memakan korban belasan orang dan merusak puluhan kendaraan roda empat dan roda dua. Kecelakaan itu terjadi saat waktu Dzuhur di depan Rumah Sakit Siti Aminah, hal seperti itu terjadi lagi memakan nyawa-nyawa yang terbilang banyak jumlahnya. Jalur penyelamatan dan terapi kejut sudah dibuat sedemikian rupa, bahkan sudah ada wujud nyata dari jalur penyelamat yaitu di terminal lama Bumiayu sebelum memasuki jalan lingkar. Sudah seharusnya ada tindakan nyata dari pihak-pihak yang bertanggung jawab. Setelah kejadian tersebut pihak KNKT mengatakan bahwa akan segera ditindak lanjuti yaitu ada jangka dekat dan jangka menengah. Jangka dekatnya pihak KNKT akan mengundang Dirjen PT KAI untuk meminta izin agar jalur bawah bisa digunakan untuk laju muatan serta di atas lima ton. Jarak menengahnya pihak KNKT meminta agar KEMENHUB memindahkan jembatan timbang yang ada di Ajibarang di Kabupaten Banyumas ke sisi jalur Purwokerto-Tegal tujuannya agar kendaraan yang bermuatan lebih dari lima ton untuk tidak mengoperasikan kendaraannya atau mengurangi bebannya. Hal ini tentu bisa dilihat dengan akal pikiran atau rasional.
Desas-desus tentang Fly Over Kretek bukan hanya berkutik pada bidang jalanan saja. Rumor yang dipercayai warga bahwa ada sosok makhluk astral penunggu Fly Over Kretek. Salah satu warga Grengseng mengatakan bahwa dahulu ada seorang lelaki yang kecelakaan di rel kereta api dan kepalanya terpenggal, hingga saat ini makhluk tersebut masih menghantui para warga sekitar dengan meminta kepala. Selain itu pula ada seorang pemuda yang lewat dan melihat ada sosok perempuan cantik yang melambai-lambaikan tangannya saat ia sedang berkendaraan. Setiap tempat memang memiliki suatu kisah atau kejadian di luar nalar manusia biasa. Kebetulan saja analisis dari penulis bahwa kejadian pada bulan Mei dan bulan Desember serupa harinya, yaitu tepat dihari Senin.
Kenyataannya memang semua yang bernyawa tentu akan mengalami mati, namun ada sebagian orang yang melihat dengan kaca mata mistis bahwa ketika nyawa pergi dari raga bukan berarti ia mati, namun ada hal yang harus diselesaikan. Selain itu pula bahwa Fly Over Kretek masih membutuhkan 60 lebih orang untuk tumbal, karena sudah mencapai angka 40 lebih kematian yang terjadi akibat Fly Over Kretek. Percaya dan tidak percaya merupakan hak asasi manusia. Manusia biasa hanya bisa menjangkau kejadian dengan nalar yang rasional, namun manusia juga terkadang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya. Menjadi sebuah pembelajaran bagi semua manusia masalah kematian bukan hanya terletak pada tua dan muda saja. Tetap ingat bahwa dibalik jiwa dan raga kita ada tangan Tuhan.
Editor : Abu Bakar Sidik





