BATANG,medianasional.id.
DPC PDI Perjuangan Kabupaten Batang melaksanakan do’a bersama dalam rangka memperingati peristiwa KUDATULI, peristiwa dimana PDI Kubu Soerjadi menyerang Kantor PDI pimpinan Megawati Soekarnoputri, kegiatan berlangsung di markas banteng alas roban di Jl. Brigjend Katamso Minggu, 26 Juli 2026 malam.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Batang,H.Ahmad Ridwan,S.E.,M.M. mengatakan, 30 tahun telah berlalu peristiwa kudatuli, kita peringati malam kudatuli ini sebagai refleksi. Peristiwa itu masih dalam ingatan kita, betapa pemerintah rezim orde baru kala itu melakukan penekanan, melakukan pembredelan demokrasi masyarakat untuk berserikat dimana PDI pada waktu itu di bawah naungan Ibu Megawati yang di dukung oleh grassroot, di serang oleh kelompok PDI dibawah kendali Soerjadi yang jelas di dukung di support oleh pemerintah orde baru pada saat itu, yang mana terjadi banyak kader-kader kita banyak pendukung PDI yang gugur dan hilang sampai saat inipun 30 tahun yang lalu belum diketahui keberadaannya.
” DPC PDI Perjuangan Kabupaten Batang mengilhami semangat perjuangan kesetiaan para kader-kader PDI Perjuangan bagaimana kesetiannya terhadap Ibu Megawati dalam memegang organisasi partai ini dengan prinsip kebenaran, dengan prinsip kejujuran, pasti kebenaran akan menemukan jalannya, ” tutur H. Ahmad Ridwan, S. E., M. M.
Dan sampai saat ini eksitensi tersebut telah terbukti bahwa Ibu Megawati masih kokoh memegang tampuk management partai ini, dan sangat disayangi oleh kader-kadernya kesolidan ini menjadikan PDI Perjuangan insyaallah akan tetap tegak di bumi yang kita cintai.
Lebih lanjut, H. Ahmad Ridwan menjelaskan, kami generasi muda khususnya akan senantiasa selalu menikmati perjuangan para senior-senior partai yang telah menancapkan pondasi keyakinan bahwa demokrasi yang sesungguhnya demokrasi yang pro terhadap rakyat, untuk rakyat, demi rakyat, dan oleh rakyat ini harus betul-betul di dengungkan agar tirani-tirani yang menekan terhadap jalannya demokrasi yang baik, demokrasi yang sesuai makna demokrasi jangan sampai terjadi saat ini.
Mudah-mudahan dengan sekian puluh tahun kemerdekaan dan dengan sekian tahun ciri-ciri /tanda-tanda proses demokrasi yang semakin lama semakin baik, tetapi kali ini kita melihat bahwa banyak sekali komponen-komponen yang telah melakukan pergerakan-pergerakan di Indonesia yang cenderung akan melakukan devide et empera /pemecah belahan dan kita khawatir akan di rong-rong oleh penjajah, penjahan neo kolonisme, kita tau bahwa perjuangan kali ini betul-betul melawan bangsanya sendiri seperti yang di utarakan oleh founding father kita yaitu Bung Karno, ” Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.
Maka kami selaku kader-kader militan setia PDI Perjuangan sampai kapanpun PDI Perjuangan harus tetap mengawal pilar-pilar demokrasi sebagai pelopor, ujung pergerakan untuk tegaknya demokrasi di bumi yang kita cintai yaitu Indonesia Raya.
Dengan memberikan doa terhadap sodara-sodara kita pendahulu-pendahulu kita yang rela mengorbankan diri, yang rela memberikan secercah gambaran bahwa kesetiaan merupakan harga mati terhadap proses demokrasi, maka dari itu malam hari ini kita memberikan doa kepada arwah-arwah beliau semoga diterima oleh Allah SWT. Dan kita bisa meneruskan cita-citanya perjuangannya untuk PDI Perjuangan di bumi yang kita cintai Indonesia.
Kiranya dengan refleksi ini tiap tahun kita selenggarakan agar generasi-generasi yang akan datang gen z itu memahami bahwa akan nikmatnya kedaulatan dengan demokrasi yang sesungguhnya bagian dari untuk tegaknya kesatuan Republik Indonesia dan demi utuhnya NKRI ini biar tidak tercerai-berai, biar tidak dijadikan sebuah ajang kelompok-kelompok tertentu untuk mengeksplorasi kekayaan bangsanya tetapi bukan untuk kesejahteraan bangsanya, maka malam hari ini kita tekadkan, kita teguhkan kesetiaan sampai tiada tara untuk PDI Perjuangan, Ibu Megawati Soekarnoputri Merdeka.






