Suluk Brebesan Bedah 10 Objek Pemajuan Kebudayaan, Perkuat Sinergi Pelaku Budaya dan Pemerintah

Brebes, Jawa Tengah64 Dilihat

Brebes, medianasional.id – Pegiat seni dan budaya di wilayah Brebes Selatan mengikuti kegiatan Suluk Brebesan: Membedah 10 Objek Pemajuan Kebudayaan yang berlangsung di Pendopo Bumiayu, Kabupaten Brebes, Selasa (20/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang sarasehan, pertukaran pengetahuan, dan penguatan sinergi antara pelaku budaya dan pemerintah daerah dalam upaya melindungi serta mengembangkan kekayaan kebudayaan lokal.

Kegiatan ini menjadi forum untuk membahas potensi, tantangan, serta strategi pemajuan kebudayaan Kabupaten Brebes, termasuk upaya melindungi dan mengembangkan kekayaan tradisi lokal agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Acara dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadinbudpar) Kabupaten Brebes, Fajar Adi Widiarso. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi secara berkelanjutan antara pemerintah dan para pelaku kebudayaan.

Menurutnya, kebijakan pemajuan kebudayaan perlu memperhatikan pengalaman, gagasan, serta kebutuhan masyarakat yang selama ini merawat tradisi. Dengan demikian, program pemerintah diharapkan dapat berjalan selaras dengan kondisi dan potensi kebudayaan di tingkat lokal.

Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan di Kabupaten Brebes.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Kebudayaan Kadinbudpar Brebes, Masdori, memaparkan sepuluh Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Kesepuluh objek tersebut meliputi tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.

Pemahaman terhadap sepuluh objek tersebut menjadi landasan penting untuk mengidentifikasi dan memetakan kekayaan budaya daerah secara lebih sistematis. Melalui pemetaan tersebut, pemerintah dan masyarakat dapat menentukan prioritas pelestarian berdasarkan potensi, kondisi, serta kebutuhan setiap komunitas budaya.

Brebes Selatan memiliki beragam cerita rakyat, kesenian, tradisi, dan pengetahuan lokal yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat. Potensi tersebut membutuhkan inventarisasi, dokumentasi, serta penelitian agar tidak hanya dikenal melalui pertunjukan, tetapi juga dapat dipelajari sebagai sumber pengetahuan.

Karena itu, pemajuan kebudayaan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, seniman, budayawan, peneliti, komunitas, hingga masyarakat yang menjadi pemilik dan pewaris tradisi.

Pegiat budaya Dimas Sastronagoro dalam forum tersebut turut membahas pentingnya tradisi lisan sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan. Tradisi lisan mencakup cerita rakyat dan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun melalui tuturan masyarakat.

Salah satu contoh yang dibahas ialah legenda Nyi Rantan Sari, cerita lokal yang telah diangkat ke panggung pertunjukan oleh Duta Seni Kabupaten Brebes di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa cerita rakyat dapat menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan karya seni sekaligus sarana memperkenalkan identitas budaya daerah kepada masyarakat luas.

Namun, penggarapan cerita rakyat juga memerlukan penelusuran sumber, dokumentasi versi cerita, dan pemahaman terhadap konteks sosial serta budaya yang melatarbelakanginya.

Dengan demikian, upaya mengembangkan tradisi lisan tidak hanya berkaitan dengan kreativitas pertunjukan, tetapi juga dengan tanggung jawab untuk menjaga pengetahuan dan nilai-nilai budaya yang diwariskan masyarakat.

Melalui Suluk Brebesan, para peserta diharapkan semakin memahami bahwa pemajuan kebudayaan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah atau pelaku seni secara terpisah. Diperlukan kerja sama yang berkelanjutan untuk mendokumentasikan, melestarikan, mengembangkan, dan memanfaatkan kekayaan budaya daerah.

Forum sarasehan juga menjadi ruang pertukaran pandangan mengenai pentingnya riset, keterbukaan terhadap sumber, serta dialog yang sehat dalam menghadapi perbedaan penafsiran terhadap tradisi lokal.

Kolaborasi antara pemerintah, seniman, budayawan, peneliti, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat ekosistem kebudayaan Brebes sehingga tradisi lokal tetap berkembang tanpa kehilangan akar sejarah dan identitasnya.

Melalui kegiatan ini, Suluk Brebesan diharapkan menjadi ruang perjumpaan yang berkelanjutan untuk menggali potensi kebudayaan, memperkuat sinergi lintas komunitas, serta mendorong pemajuan kebudayaan Brebes yang berakar pada tradisi dan didukung pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses