Bumiayu, medianasional.id – Karya monumental kembali lahir dari tangan seniman patung asal desa Kalierang Bumiayu KRT Anton Bimo Waluyo. Kali ini, sosok Jaran Sembrani atau kuda sembrani tampil gagah menghiasi taman Grand Dian Hotel Bumiayu, menjadi ikon baru yang memperkuat nilai estetika sekaligus daya tarik kawasan tersebut. Rabu, 25/02/2026.
Patung Jaran Sembrani yang sarat makna filosofis itu merepresentasikan simbol kekuatan, kebebasan, dan spiritualitas dalam khazanah budaya Jawa. Dalam tradisi pewayangan, jaran sembrani dikenal sebagai kuda bersayap yang memiliki kesaktian dan kerap dikaitkan dengan tokoh-tokoh ksatria. Visualisasi karya ini dibuat dengan detail anatomi yang tegas, komposisi proporsional, serta ekspresi dinamis, mencerminkan karakter heroik dan elegan.
Menurut KRT Anton Bimo Waluyo kekancingan salah satu pasukan Garba Mataram keraton kasunanan Surakarta Hadiningrat, proses kreatif pembuatan patung tersebut melalui tahapan perancangan desain konseptual, pembentukan struktur rangka, hingga tahap detailing dan finishing yang membutuhkan ketelitian tinggi. “Setiap karya bukan sekadar bentuk visual, tetapi mengandung ruh dan narasi budaya yang ingin saya hadirkan kepada publik,” ujarnya.
Manager Grand Dian Hotel Bumiayu, Andi Triantoro, menyampaikan apresiasinya atas hadirnya karya seni tersebut di lingkungan hotel. Ia menegaskan bahwa kehadiran patung Jaran Sembrani menjadi bagian dari strategi hotel dalam menghadirkan pengalaman visual dan budaya bagi para tamu.
“Kami ingin Grand Dian Hotel Bumiayu tidak hanya menjadi tempat menginap, tetapi juga ruang apresiasi seni dan budaya lokal. Kehadiran karya Jaran Sembrani ini menjadi ikon baru yang memperkuat karakter hotel sekaligus daya tarik wisata di Bumiayu,” ungkap Andi Triantoro.
Ia menambahkan, pihak manajemen mendukung penuh kolaborasi dengan seniman lokal sebagai bentuk kontribusi terhadap pengembangan ekonomi kreatif daerah. “Karya ini bukan hanya mempercantik taman hotel, tetapi juga memberi nilai tambah secara branding dan citra destinasi,” tambahnya.
Selain Jaran Sembrani, KRT Anton Bimo Waluyo juga memiliki sejumlah karya lain yang tak kalah monumental. Di antaranya patung Gajah Sinomastodon yang merepresentasikan satwa purba berpostur kokoh dan penuh wibawa, patung panda dengan detail anatomi realistis, serta karya Kidang Wulung yang sarat simbolik dalam khazanah budaya Jawa.
Kidang Wulung sendiri dikenal sebagai perlambang ketangkasan, keanggunan, dan kewaspadaan. Dalam interpretasi artistik KRT Anton Bimo Waluyo, figur kidang divisualisasikan dengan gestur dinamis dan sorot ekspresif, memperlihatkan perpaduan antara kekuatan alami dan nilai filosofis yang mendalam. Karya tersebut menunjukkan konsistensi sang seniman dalam mengeksplorasi tema fauna, baik mitologis, historis, maupun naturalistik.
Bagi instansi pemerintah, pelaku usaha, pengelola destinasi wisata, maupun kolektor pribadi yang berminat memesan karya patung, KRT Anton Bimo Waluyo membuka kesempatan kerja sama pembuatan patung sesuai konsep dan kebutuhan pemesan. Mulai dari desain custom, skala taman hingga ukuran monumental, seluruh proses dikerjakan secara profesional dengan perencanaan teknis, struktur konstruksi yang kuat, serta standar artistik yang terukur.
Melalui dedikasi dan konsistensinya, KRT Anton Bimo Waluyo membuktikan bahwa karya seni patung bukan sekadar ornamen visual, melainkan elemen strategis dalam membangun identitas ruang, memperkuat branding kawasan, dan menghadirkan nilai budaya yang berkelanjutan bagi masyarakat.





