Reseliensi Saat Pandemi: Pembahasan Urgent Saat International Conference Fakultas Dakwah IAIN Salatiga

Jawa Tengah441 Dilihat

Salatiga, medianasional.id | Pandemi covid 19 banyak menimbulkan keresahan dan permasalahan dalam berbagai kalangan masyarakat, baik itu masalah kesehatan mental, ekonomi, keharmonisan dan lain sebagaianya. Atas dasar itu maka Fakultas Dakwah IAIN Salatiga mengadakan International Conference on Interdisciplinary Communication, Management, and Psychology (ICICOMEP) untuk mengajak para akademisi, peneliti dan praktisi membicarakan permasalahan tersebut serta mencari solusi pada 6-7 Oktober 2021 secara online.

Dekan Fakultas Dakwah Dr. Mukti Ali, M.Hum menyampaikan dalam sambutan selamat datangnya menjelaskan bahwa; ICICOMEP diadakan untuk menjadi wahana berkumpunya insan akademik, untuk bertukar informasi, berdialog tentang konsep, negosiasi pengalaman pemikiran yang berdiri di dalam bingkai keilmuan.

“ICICOMEP adalah hasil renungan yang memiliki relasi konseptual pada semua Program studi yang ada di Fakultas Dakwah IAIN Salatiga: Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Manajemen Dakwah (MD), Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), dan Psikologi Islam (PI), sekaligus manifestasi dari jurnal yang dimiliki oleh Fakultas Dakwah,  Interdisciplinary Journal of Communication (INJECT), Islamic Management and Empowerment Journal (IMEJ), dan Indonesian Journal of Islamic Psychology (IJIP). Event ini akan menjadi program tahunan dengan mengusung berbagai tema yang berkembang”. Ucap Mukti Ali dalam sambutan pembukaan acara International Conference ICICOMEP.

Rektor IAIN Salatiga Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag mengantarkan dan membuka konferensi dengan sangat jelas. Rektor memberikan apresiasi atas penyelenggaran ICIOMEP ini. “Tema ini sangat kontekstual menjawab masalah pandemic covid-19 saat ini. Banyak masalah psikis karena hilangnya pekerjaan, banyak mahasiswa ketergantungan gadget dan persoalan lainnya. Sehingga butuh pendekatan komunikasi, psikologi, dakwah serta pemberdayaan untuk mencapai ketahanan komunal”. Ujar Prof. Zakiyuddin.

Dr. Roslan Abdul-Rahman berkesempatan pertama untuk membahas tentang komunikasi yang terjadi pada masyarakat di era pandemi dan resiliensi. Narasumber yang mengajar di USAS-Malaysia ini menjelaskan bahwa, Stress atau depresi sebagai salah satu bagian dari mental health dapat ditandai salah satunya adalah “speech deficit” dalam komunikasi.

Dalam pembangunan relation pada penderita mental health, komunikasi tidak hanya melalui apa yang kita bicarakan kepada orang lain, namun bisa juga melalui body language seperti senyuman manis atau friendly greeting atau approving eye contact yang bisa membawa ketenangan. Pandemic resilience merupakan gambaran kepada kita bahwa manusia memiliki kelemahan.

“Mental health jangan sampai menjadi threat of ecosystem yang berkelanjutan di masyarakat, sehingga pemerintah dan semua pihak terkait harus segera memberikan penanganan terhadap kasus ini. Namun, kasus ini juga memiliki tantangan lain yaitu keterbatasan pertemuan fisik karena kita hanya bisa dipertemukan secara digital network yang masih lemah”. Jelas Roslan.

Kemudian Roslan Abdul-Rahman menambahkan bila komunikasi dijadikan solusi sebagai digital capability, salah satunya adanya pelibatan dari Lembaga Pendidikan/ universitas. “Di sisi lain, ternyata kondisi digital network pada saat pandemic membuka peluang pada masyarakat tentang pentingnya digital job market yang membutuhkan critical thinking dalam intelektual terutama pada golongan religi yang memiliki cukup resistance untuk mewujudkan masyarakat yang resilience. Jalur komunikasi perlu diperluaskan untuk penanganan pandemic covid 19 terutama dalam penanganan terkait mental health”. Lanjut Roslan Abdul-Rahman.

Lebih lanjut, hal senada disampaikan juga oleh Dr. Rosleny Marliani dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Menurutnya di Kota Bandung pada umumnya masa pandemi covid 19 banyak keluarga yang mengalami permasalahan utamanya adalah masalah kesulitan ekonomi. “Berdasarkan data yang diperoleh dari 100 anggota keluarga yang ada di wilayah Kota Bandung, mendeskripsikan bahwa dalam kehidupan sehari-hari banyak permasalahan yang dihadapi ketika menjalani peran dan posisi dalam keluarga di saat Pandemi Covid, diantaranya, permasalahan ekonomi, kurangnya keharmonisan antara anggota keluarga, terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, dan meningkatnya individualitas anggota keluarga”. Papar Rosleny pada saat penyampaian materi dalam acara International Conference ICICOMEP Fakultas Dakwah IAIN Salatiga.

Selain permasalahan dari dampak pandemi covid di atas, Rosleny juga menambahkan jika resiliensi keluarga merupakan kemampuan keluarga untuk keluarga dari berbagai persoalan dan situasi hidup yang sulit untuk kemudian beradaptasi dengan kondisi baru yang dihadapi keluarga tersebut.

“Dengan kata lain, dalam resiliensi keluarga, terdapat proses tertentu yang melibatkan anggota keluarga untuk secara bersama-sama menghadapi persoalan yang muncul dalam keluarga, mengembangkan kemampuan adaptif di tengah perubahan yang ada, untuk membangun kondisi keluarga dengan kerekatan dan kesatuan yang lebih kuat dari sebelumnya”. Tambah dosen Psikologi UIN Bandung tersebut.

Dalam kesempatan yang sama Dr. Tantan Hermansah sebagai pemateri terakhir memaparkan tentang resiliensi sosial untuk melewati pandemi. Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menyampaikan bahwa resiliensi sosial diartikan sebagai kemampuan masyarakat untuk mengatasi kejadian berat atau masalah yang terjadi. Tantan berpendapat bahwa pentingnya kemampuan adaptasi dan mitigasi dalam mengatasi berbagai persoalan pandemi covid-19.

“Setiap masyarakat pada dasarnya memiliki kapasitas adaptasi untuk tahan terhadap bahaya pandemi yang ada di kehidupan mereka. Misalnya kerawanan pangan bagi keluarga yang sedang menjalankan isolasi mandiri dapat diatasi dengan membangun lumbung pangan untuk menjamin kebutuhan pangan masyarakat. Dari sini tampak bahwa masyarakat sebenarnya telah memiliki cara tersendiri untuk mengatasi masalahnya. Kemampuan adaptasi ini lahir secara alami melalui proses belajar sosial.

Adapun kemampuan mitigasi(pencegahan) dilakukan dengan proses edukasi agar masyarakat punya kesadaran diri untuk taat protokol kesehatan sebagai langkah pencegahan dari risiko dan ancaman pandemi covid-19”. Jelas Tantan Hermansah.

Seperti diketahui bahwa International Conference ICICOMEP Fakultas Dakwah IAIN Salatiga paper presenter diadakan pada hari kedua. Dalam kegiatan tersebut tidak kurang dari 15 papers diterima dari sekian banyak paper yang lain. Para presenter berasal dari Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, Universitas Riau, Universitas 17 Agustus Surabaya, Universitas Islam Riau, IAIN Pekalongan, UIN KHAS Jember, Universitas Surakarta, dan perguruan tinggi lainnya. Mereka mempresentasikan hasil risetnya dalam 3 ruang yang disesuaikan pada scope jurnal yang dimiliki Fakultas Dakwah IAIN Salatiga.

Para peserta merasa sangat puas atas terselenggaranya ICICOMEP tahun ini. Seluruh paper akan dimuat di jurnal INJECT, IMEJ dan IJIP Fakultas Dakwah IAIN Salatiga. Selain itu akhirnya mereka dapat menindak lanjuti relasi yang telah terjalin saat ICICOMEP ini.

Kontributor : Hasan Maftuh
Editor : Abu Bakar Sidik

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses