Prof. Sugeng Santoso Dorong Tata Kelola Beras Nasional Berbasis Data

Kebumen Jadi Daerah Percontohan Rice Journey

Kebumen1347 Dilihat

KEBUMEN, medianasional.id – Pemerintah terus memperkuat sistem ketahanan pangan nasional melalui transformasi tata kelola beras berbasis data. Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui implementasi Program Rice Journey di Kabupaten Kebumen yang dipimpin oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi Maritim Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Assoc. Prof. Dr. Ir. H. Sugeng Santoso, M.T., QRGP., CGRE.

Program ini dirancang untuk membangun sistem pengelolaan beras yang terintegrasi, mulai dari proses budidaya di lahan pertanian hingga beras diterima oleh masyarakat. Seluruh tahapan tersebut akan terdokumentasi dalam satu sistem informasi yang menjadi dasar penyusunan kebijakan pangan nasional secara lebih akurat.

Menurut Prof. Sugeng Santoso, tantangan sektor pangan saat ini tidak hanya terletak pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kemampuan pemerintah mengelola data di seluruh rantai pasok beras.

“Selama ini tantangan kita bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi memastikan seluruh rantai pasok beras dapat dipantau melalui satu sistem yang menghasilkan data akurat untuk mendukung pengambilan keputusan pemerintah,” ujarnya.

Melalui kolaborasi Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dikembangkan Executive Decision Dashboard Rice Journey, sebuah Decision Support System (DSS) yang berfungsi sebagai pusat informasi tata kelola perberasan nasional.

Sistem tersebut mampu menyajikan kondisi produksi dan distribusi beras secara real time, melakukan analisis risiko, menyusun simulasi berbagai alternatif kebijakan, hingga memberikan peringatan dini (early warning system) terhadap potensi gangguan produksi, distribusi, maupun fluktuasi harga pangan.

Prof. Sugeng menegaskan, kebijakan pangan di era modern harus bertumpu pada data yang terintegrasi. Dengan dukungan data dari berbagai kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga pelaku usaha, pemerintah akan lebih cepat dan tepat dalam mengambil keputusan menghadapi dinamika sektor pangan.

Sebagai bagian dari pelaksanaan program, Kabupaten Kebumen ditetapkan sebagai salah satu lokasi percontohan nasional. Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, dipilih sebagai lokasi purposive sampling karena dinilai memiliki karakteristik yang mewakili ekosistem pertanian padi di Indonesia, mulai dari lahan produktif, kelompok tani yang aktif, hingga sistem budidaya yang terus berkembang.

Pemilihan Kebumen juga didasarkan pada posisinya sebagai salah satu lumbung pangan utama di Jawa Tengah yang memiliki kontribusi besar terhadap produksi beras nasional.

Dalam kesempatan itu, Prof. Sugeng turut menyampaikan bahwa sektor pangan nasional saat ini menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Berdasarkan data pemerintah, stok beras nasional telah mencapai surplus sekitar 5,23 juta ton, yang menjadi salah satu capaian tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan produksi harus diiringi dengan sistem tata kelola yang kuat agar pemerintah mampu merespons perubahan iklim, gangguan distribusi, maupun dinamika pasar secara cepat dan tepat.

“Rice Journey bukan sekadar proyek digitalisasi. Ini adalah transformasi cara negara mengelola pangan. Data menjadi dasar bagi setiap keputusan sehingga kebijakan yang diambil semakin presisi, efisien, dan berdampak langsung bagi petani maupun masyarakat,” tegasnya.

Pemerintah Kabupaten Kebumen menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan program tersebut. Sebagai produsen beras terbesar kedelapan di Jawa Tengah, Kebumen terus meningkatkan produktivitas melalui penyediaan alat dan mesin pertanian, perluasan luas tanam hingga sekitar 170 ribu hektare, serta pengembangan irigasi pompa untuk meningkatkan indeks pertanaman dari dua menjadi tiga kali dalam setahun.

Di sisi lain, penguatan tata kelola data juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Seluruh perangkat daerah didorong menyediakan data yang terstandar dan saling terintegrasi, sementara Dinas Komunikasi dan Informatika menjalankan peran sebagai walidata guna memastikan kualitas dan keterpaduan data.

Melalui Program Rice Journey, pemerintah berharap tercipta fondasi baru dalam pengelolaan pangan nasional yang memanfaatkan teknologi, hasil riset, dan integrasi data. Dengan demikian, stabilitas produksi, distribusi, serta harga pangan dapat terjaga sekaligus mempercepat terwujudnya swasembada pangan yang berkelanjutan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses