Polres Batang Adakan Doa Bersama Antar Lintas Beragama

Batang782 Dilihat

Batang, medianasional.id
Jajaran Kepolisian Resor Batang Polda Jawa Tengah menggelar acara doa bersama antar lintas agama, kegiatan tersebut dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia HUT RI ke-74 di Mapolres setempat, Kamis (15/8/2019) malam.

Kapolres Batang AKBP Edi S Sinulingga dalam kesempatan tersebut mengatakan, tidak lama lagi masyarakat Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74, salah satu wujud rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat-NYA, sehingga rakyat Indonesia bisa menjadi bangsa yang merdeka, berdaulat, sejak tanggal 17 Agustus 1945.

“Kita bisa merdeka seperti sekarang ini, karena perjuangan para pahlawan, oleh karena itu jagalah bangsa ini dengan baik,” ungkap Kapolres Batang.

Ia juga menuturkan, bahwa belakangan ini banyak paham yang ingin merongrong kewibawaan bangsa, yang ingin mengganti ideologi dan dasar negara. Maka kita harus memupuk semangat kemerdekaan agar tidak mudah goyah. Seluruh personel Polres Batang harus menjadi Bhayangkara yang terus menjaga persatuan dan kesatuan serta tidak mudah terpengaruh oleh aliran radikalisme yang mau mengoyak keberagaman yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

“Semoga do’a lintas agama ini sebagai pemersatu, karena kita sepakat bangsa ini terdiri dari banyak suku, agama, kepercayaan yang menjadi satu di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jelasnya.

Lebih lanjut Kapolres Batang AKBP Edi S Sinulingga mengatakan, Kita sebagai bangsa yang besar, dengan mayoritas penduduk muslim, diharapkan dapat menjaga toleransi antar umat beragama yang hidup di bumi Pertiwi.

Sementara itu, tokoh agama, KH. Gus Muwafiq saat menyampaikan tausiah dengan tema “Perbedaan dan Toleransi Dalam Masyarakat”, menuturkan, Islam adalah agama yang cinta akan kedamaian. Tentu keberadaannya membawa kesejukan dan keberkahan bagi seluruh umat.

“Mari kita belajar dari falsafah seekor burung elang. Supaya dapat hidup dengan usia yang panjang, elang harus mengambil keputusan yang berat. Dia harus mencabuti paruh dan cakarnya secara paksa,” tuturnya.

Walaupun menyakitkan cakar dan paruh baru akan tumbuh kembali dan menjadi semakin kuat, untuk dapat hidup lebih lama hingga 40 tahun.

“Persis seperti elang itu, kita pun bisa meraih sukses, tetapi harus melewati proses yang panjang. Sadar atau tidak, rasa sakit dan pengorbanan itu, akan mendidik kita menjadi polisi yang baik dan bertanggungjawab,” ungkap KH. Gus Muwafiq.

Reporter : Puji_L

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses