
Wonosobo, medianasional.id – Bertempat di desa Binangun Kelurahan Mudal telah dilaksanakan kegiatan ziarah ke makam lurah Sudarto, haul lurah sudarto dan deklarasi ODF dalam rangka peresmian pasar tradisional Projo Buritan. Rabu (24/4).
Dalam peresmian dan kegiatan tersebut dihadiri oleh Camat Mojotengah, Danramil Mojotengah, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Puskesmas Mojotengah,Kapolsek Mojotengah, Lurah Mudal dan tamu undangan lainnya.
Lurah Mudal Saliman menjelaskan kegiatan ziarah makam, deklarasi ODF, dan haul lurah sudarto tersebut merupakan rangkaian kegiatan peresmian pasar tradisional projo buritan.
“Kegiatan ini juga untuk program germas agar meningkatkan kesadaran masyarakat tentang ODF”, ungkapnya.
“Pasar tradisional ini hanya beroperasi setiap hari minggu atau seminggu sekali dan saat ada moment-moment tertentu saja, pasar ini akan mulai beroperasi pada hari minggu 28/4/2019 pukul 07:00 WIB sampai 16:00 WIB, dan pada saat bulan ramadhan pasar ini pun akan tetap beroperasi selama 1 bulan penuh mulai dari pukul 15:00-waktu berbuka puasa,” katanya.
Haji Ibnu Amar selaku pengurus pasar projo buritan ini mengatakan dengan adanya pasar tradisional yang berdestinasi bambu ini sangat bermanfaat sekali untuk meningkatkan potensi pariwisata dan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar terutama di kelurahan mudal. Sistem jual beli di pasar ini juga di buat dengan sistem yang masih sangat tradisional dengan menggunakan kepeng atau bambu hitam bertujuan agar para pengunjung pasar nantinya merasakan suasana pasar pada jaman dulu harga per kepeng ini dibandrol dengan harga Rp 2.000 – Rp 10.000 per kepeng.

Di pasar ini para pedagang hanya akan menjualkan produk – produk lokal saja yang berciri khas dengan kelurahan mudal seperti makanan tradisonal, jajanan tradisional, mainan tradisional, pakaian tradisional dan produk lokal yang lainya kata haji.
“Kami juga akan terus mengimbau kepada pedagang untuk tetap berpegang pada peraturan dan kesepakatan, bahwa makanan yang disuguhkan di sini memang harus dijaga betul agar sesuai dengan filosofi dan ciri khas daerah kami. Di antaranya ialah tanpa MSG atau penguat rasa buatan, bungkus makanan tidak menggunakan plastik tetapi menggunkan daun-daunan serta tusuk bambu karena sampah tersebut dapat terurai, streples dan apalagi harus tanpa pemanis buatan. Jadi kami ingin mengembalikan cita rasa tempo dulu dengan makanan khas atau asli dengan cara yang baik pula,” imbuh Saliman. (Andika)






