Pagar Mataram Gelar Silaturahmi Pegiat Spiritual, Bahas Inventarisasi dan Konservasi Situs Budaya di Paguyangan

Brebes, Jawa Tengah56 Dilihat

BREBES, medianasional.id – Pagar Mataram (Prakarsa Garba Mataram) menggelar Silaturahmi Pegiat Spiritual yang mempertemukan pegiat budaya, pegiat spiritual, juru kunci makam, juru kunci situ, serta juru kunci petilasan dari sejumlah desa di Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat komunikasi sekaligus mendorong inventarisasi dan konservasi situs-situs bersejarah dan spiritual di wilayah setempat.

Kegiatan yang diinisiasi Camat Paguyangan, Koko Kusnanto, tersebut berlangsung di nDalem Sastronegaran, kediaman KP. Dimas Sastronegoro, seorang budayawan Brebes pada Senin Malam, 19/10/2026.  Forum ini menjadi ruang silaturahmi bagi para pelaku budaya dan penjaga situs untuk bertukar informasi mengenai keberadaan, sejarah, tradisi, serta tantangan dalam menjaga warisan leluhur.

Para peserta yang hadir berasal dari berbagai desa di Kecamatan Paguyangan dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam. Mereka memiliki peran dalam merawat makam leluhur, situ, petilasan, serta berbagai tradisi yang masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Salah satu pembahasan utama dalam pertemuan tersebut adalah pentingnya melakukan pendataan secara sistematis terhadap situs-situs budaya dan titik spiritual yang tersebar di Kecamatan Paguyangan. Inventarisasi ini diharapkan menjadi dasar untuk menentukan langkah pelestarian yang melibatkan masyarakat, pemerintah, komunitas budaya, dan para pemangku kepentingan terkait.

Camat Paguyangan, Koko Kusnanto, selaku penggagas kegiatan, mendorong terbentuknya ruang komunikasi yang dapat mempertemukan para penjaga tradisi dan situs budaya di tingkat lokal. Melalui kegiatan tersebut, silaturahmi diharapkan tidak berhenti sebagai pertemuan seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama untuk mengenali, mendokumentasikan, dan merawat kekayaan budaya daerah.

Keberadaan juru kunci makam, situ, dan petilasan dinilai memiliki peran penting dalam menjaga pengetahuan sejarah lokal, cerita tutur, ritual, serta praktik budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan tersebut perlu dihimpun dan didokumentasikan agar tetap terjaga serta dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sementara itu, KP. Dimas Sastronegoro, budayawan Brebes, menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini penting untuk menginventarisasi potensi kultural dan historis di Kecamatan Paguyangan.

Menurutnya, berbagai situs dan titik spiritual yang tersebar di tengah masyarakat merupakan bagian dari kekayaan sejarah lokal yang perlu dikenali, didokumentasikan, dan dirawat secara berkelanjutan.

“Inventarisasi menjadi langkah awal untuk mengetahui apa saja yang kita miliki, bagaimana sejarahnya, siapa yang merawatnya, dan apa yang perlu dilakukan untuk menjaga keberlangsungannya. Di balik setiap makam, situ, maupun petilasan, sering kali tersimpan ingatan kolektif dan pengetahuan lokal yang memiliki arti penting bagi identitas masyarakat,” ungkapnya.

Dimas juga menekankan bahwa upaya konservasi perlu memperhatikan nilai historis, tradisi yang masih hidup, serta keterlibatan masyarakat sebagai pemilik pengetahuan sekaligus pewaris kebudayaan.

Ia berharap, pendataan situs budaya tidak hanya berhenti pada pencatatan lokasi, tetapi juga mencakup penghimpunan sejarah lisan, dokumentasi tradisi, identifikasi kondisi situs, serta kebutuhan pemeliharaan masing-masing lokasi. Dengan demikian, upaya pelestarian dapat dilakukan secara lebih terarah dengan tetap menghormati nilai-nilai budaya yang berkembang di masyarakat.

Melalui Silaturahmi Pegiat Spiritual ini, Pagar Mataram berharap terbangun jejaring kolaborasi antara pegiat budaya, komunitas spiritual, para juru kunci, dan pemerintah dalam menjaga warisan budaya di Kecamatan Paguyangan.

Inventarisasi dan konservasi situs diharapkan menjadi tindak lanjut konkret dari pertemuan tersebut. Langkah ini penting agar situs-situs bersejarah dan spiritual tidak sekadar dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, identitas, dan kearifan lokal bagi generasi mendatang.

Silaturahmi ini sekaligus menegaskan bahwa pelestarian kebudayaan membutuhkan kerja bersama, berangkat dari pengetahuan masyarakat, dan bertumpu pada kepedulian terhadap warisan leluhur.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses