OLLANESIA Meriahkan JIKF 2026, Cetak Pelajar Berprestasi Sekaligus Lestarikan Budaya Layang-Layang

DI.Yogyakarta1568 Dilihat

Bantul, -medianasional.id – Olimpiade Layang-Layang Nasional (OLLANESIA) 2026 resmi digelar sebagai bagian dari rangkaian Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 di Pantai Parangkusumo, Bantul, Sabtu (11/7/2026). Ajang ini menjadi kompetisi layang-layang pelajar pertama di Indonesia yang bertujuan mencetak generasi berprestasi sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya layang-layang sejak usia dini.

Kompetisi diikuti pelajar dari jenjang TK, SD hingga SMP dengan empat kategori perlombaan. Pada hari pertama dipertandingkan lomba merakit layang-layang tingkat SMP yang diikuti tiga tim serta lomba mewarnai layang-layang kategori TK dengan 12 peserta. Sementara pada hari kedua, Minggu (12/7/2026), perlombaan dilanjutkan dengan kategori mewarnai TK kloter kedua, SD kelas 1–3, dan SD kelas 4–6.

Selain menjadi ajang mengasah kreativitas dan sportivitas, para peserta juga memperebutkan Piagam Penghargaan dari Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Piala Putri Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, serta total hadiah senilai Rp7 juta.

Penyelenggaraan OLLANESIA 2026 mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan RI, Kementerian Pariwisata RI, dan Dinas Pariwisata DIY sebagai bentuk sinergi dalam melestarikan budaya, mengembangkan ekonomi kreatif, serta mempromosikan pariwisata melalui festival layang-layang berskala nasional dan internasional.

Sejak pagi, Pantai Parangkusumo dipenuhi peserta, pendamping, komunitas layang-layang, hingga masyarakat yang antusias menyaksikan jalannya kompetisi. Beragam layang-layang tradisional, train naga, dan berbagai kreasi inovatif menghiasi langit pantai sehingga menambah semarak penyelenggaraan JIKF 2026.

Ketua Angkasa Satu sekaligus penyelenggara JIKF 2026, RDA Yuristianto, mengatakan OLLANESIA menjadi langkah untuk mengenalkan sekaligus melestarikan budaya layang-layang kepada generasi muda melalui dunia pendidikan.

“Adanya olimpiade ini semoga bisa memperkenalkan layang-layang kepada generasi muda. Kami juga bekerja sama dengan Pusat Prestasi Nasional untuk menyiapkan piagam penghargaan bagi para pemenang agar dapat menunjang prestasi mereka,” ujarnya.

Ketua Panitia OLLANESIA 2026, Rizal Rusyadi, menambahkan bahwa olimpiade ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem pelestarian budaya layang-layang secara berkelanjutan.

“Harapannya dengan menyasar anak-anak melalui dunia pendidikan, mereka semakin mengenal dan mencintai layangan tradisional di daerahnya masing-masing sehingga budaya ini tetap lestari,” katanya.

Sementara itu, salah satu dewan juri kategori merakit layang-layang tingkat SMP, Koni, dosen Program Studi Desain Produk Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, menilai kreativitas peserta sudah cukup baik.

Menurutnya, layang-layang bukan sekadar permainan tradisional, tetapi juga karya seni yang memadukan unsur desain visual, aerodinamika, pemilihan material, hingga konstruksi. Ia berharap kompetisi seperti OLLANESIA dapat melahirkan inovator muda sekaligus menjaga keberlangsungan budaya layang-layang di Indonesia.

Melalui OLLANESIA 2026, penyelenggara berharap kompetisi ini menjadi agenda tahunan yang mampu mencetak pelajar berprestasi, memperkuat pelestarian budaya, serta mendukung promosi pariwisata Indonesia melalui Jogja International Kite Festival.(wid).

 

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses