Nono Suharyano Guru Honorer MI Berdedikasi Tinggi,Keterbatasan Tidak Menjadikan Penghalang Untuk Terus Mengabdi

Cirebon1312 Dilihat

Cirebon, Medianasion,id – Nono Suharyano guru pendidikan jasmani (PJOK ) lulusan S1 Penjas Universitas Majalengka, asal Desa Pamengkang Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon telah mengabdikan diri sebagai guru MI selama delapan tahun.

Dengan jarak tempuh 15 menit menuju sekolah, honor yang diterimanya sekitar Rp280 ribu hingga Rp350 ribu per bulan. Namun pendapatan kecil itu tidak menyurutkan semangatnya. Baginya, mengajar adalah cara menanamkan dasar attitude dan karakter yang kelak menentukan keberhasilan siswa di jenjang lebih tinggi.

“Motivasi utama saya ya anak-anak. Ilmu yang saya punya harus disalurkan. Walaupun gajinya sedikit, keluarga tetap mendukung. Saya jalani dengan ikhlas,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Untuk membantu kebutuhan keluarga, Nono mengelola usaha sampingan berupa laundry tradisional dengan satu mesin cuci dua tabung yang sudah usang dan satu setrika, serta jasa servis HP. Hasilnya tidak menentu, namun cukup untuk melengkapi kebutuhan sehari-hari.

Saat diminta menceritakan titik terendah hidupnya, Nono sempat terdiam lama. Dengan suara bergetar ia berkata, “Pernah saya berangkat mengajar tanpa ada bensin. Tapi alhamdulillah, saya kuatkan diri, jalani, dan Allah kasih jalan.”

Harapan, Nono sangatlah sederhana, “ia tidak meminta banyak. Yang penting pendidikan dasar lebih diperhatikan, dan kesetaraan guru di seluruh Indonesia disetarakan. Banyak guru yang kondisinya lebih berat dari saya. Semoga semua diberi perhatian.”

Sementara Wakil Menteri Agama RI Romo Muhammad Syafi’i mengapresiasi pengabdian Nono yang dianggap mewakili suara banyak guru honorer di lapisan paling bawah,Senin (24/11/2025) saat menyambangi kediaman Nono.

Ia menegaskan bahwa persoalan teknis, regulasi, dan kebijakan kerap membuat negara belum mampu memberikan imbal balik yang sebanding bagi guru-guru seperti Nono.

“Guru seperti Pak Nono bukan hanya bekerja untuk keluarganya, tetapi juga menyiapkan masa depan anak bangsa. Informasi seperti ini harus sampai kepada pengambil kebijakan agar nasib guru-guru dasar mendapat perhatian lebih serius,” ujar Wamenag.

Sebagai bentuk kepedulian langsung, Wamenag memberikan bantuan sebesar Rp15 juta dan paket sembako kepada Nono dan keluarganya. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan kebutuhan rumah tangga dan mendukung usaha kecil yang ia jalankan.

Kehadiran unsur pimpinan daerah menambah kuat dukungan moral untuk Nono. Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Barat, Dudu Rohman, menyampaikan bahwa Nono adalah contoh nyata guru yang menjalankan profesinya sebagai panggilan jiwa.

“Banyak guru seperti Pak Nono, hanya belum terlihat. Semangat dan kesabarannya adalah teladan. Kami mendorong agar guru honorer yang belum sertifikasi dan belum masuk skema P3K memperoleh perhatian lebih,” ujarnya.

Sebagai wujud kepedulian, Kakanwil turut memberikan bantuan sebesar Rp2,5 juta kepada Nono. Ia berharap bantuan ini dapat menjadi penyemangat di tengah keterbatasan yang selama ini dialami guru honorer.

Kunjungan Wamenag RI menjadi pengingat bahwa keberlangsungan pendidikan di Indonesia bertumpu pada hati-hati yang sabar dan ikhlas. Guru seperti Nono Suharyano adalah pilar yang menjaga dasar pendidikan tetap berdiri kokoh, meski dengan segala keterbatasan.

Hari Guru Nasional kali ini mengajarkan kita bahwa ketulusan mengajar dapat menyalakan harapan bagi masa depan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses