Minim Lapangan Kerja di Morotai Ribuan Warga Merantau ke IWIP: Program Pemkab Dipertanyakan

Maluku Utara1440 Dilihat

MOROTAI, medianasional.id – Terbatasnya kesempatan kerja dan perlambatan ekonomi di Kabupaten Pulau Morotai memicu maraknya migrasi tenaga kerja ke luar daerah. Ribuan pencari kerja (pencaker) asal Morotai memilih merantau ke kawasan industri PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah guna menyambung hidup dan menopang perekonomian keluarga.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Pulau Morotai, Rosita A. Lasidji, mengonfirmasi bahwa mayoritas pengurus Kartu Pencari Kerja (AK-1/Kartu Kuning) mengarahkan tujuannya ke industri pertambangan tersebut.

“Tahun 2025 ada sekitar 1.147 orang yang mendaftar kartu kuning. Sebagian besar untuk bekerja ke luar daerah, terutama ke Weda dan IWIP. Latar belakang pendidikan mereka bervariasi, mulai dari lulusan SMP, SMA, hingga Sarjana (S1),” terang Rosita saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (6/8/2026).

Penurunan Pendaftaran Kartu Kuning dan Efisiensi Anggaran

Meski tren migrasi masih tinggi, data Disnakertrans menunjukkan penurunan jumlah pendaftar Kartu Kuning pada tahun berjalan. Hingga awal Agustus 2026, tercatat baru 73 orang yang mendaftar (16 di antaranya perempuan). Angka ini merosot signifikan dibanding pertengahan tahun 2024 yang sempat menembus lebih dari 2.000 pendaftar. Rosita menambahkan, rincian pendaftar berdasarkan jenis kelamin untuk tahun-tahun sebelumnya masih dalam proses rekapitulasi buku register.

Rosita mengungkapkan bahwa minimnya penyerapan tenaga kerja lokal tak lepas dari minimnya kegiatan pengembangan kapasitas akibat kebijakan efisiensi anggaran Pemkab Morotai.
Pelatihan BLK Lumpuh: Program pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) terpaksa tidak berjalan meski fasilitas dan peralatan kerja sudah tersedia.
Kemitraan Terhambat: Upaya membangun kemitraan dengan sektor swasta untuk pembukaan lapangan kerja baru tertahan lantaran belum ada dukungan anggaran.

Jeritan Pencaker: Keluhkan Mahal Sembako dan Janji Program Daerah

Di tingkat akar rumput, tingginya harga bahan pokok yang tidak diimbangi dengan tersedianya lapangan kerja membuat warga tak punya banyak pilihan. Salah seorang pencaker yang enggan disebutkan namanya mengaku terpaksa mengurus Kartu Kuning untuk melamar ke IWIP demi mengadu nasib.

“Ekonomi sekarang susah. Harga sembilan bahan pokok mahal, lapangan kerja hampir tidak ada. Saya memilih keluar bekerja di IWIP supaya bisa membantu orang tua di kampung,” tuturnya.

Pencaker tersebut juga menyentil efektivitas program pemerintah daerah di bawah kepemimpinan Regent/Bupati Rusli Rio yang dinilai belum dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat bawah maupun kelompok lansia.

Ancaman Kehilangan Tenaga Kerja Produktif

Fenomena arus migrasi ini menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai. Kendati memiliki potensi ekonomi besar di sektor perikanan, pertanian, dan pariwisata, daya serap lapangan kerja lokal saat ini dinilai belum sebanding dengan pertumbuhan angkatan kerja setiap tahunnya.

Tanpa adanya formulasi kebijakan yang konkret—seperti penyerapan anggaran untuk pelatihan keterampilan, kemudahan investasi padat karya, serta kemitraan strategis dengan dunia usaha—Morotai berisiko mengalami brain drain atau kehilangan usia produktif secara masif, sementara angka pengangguran dan keterpurukan ekonomi lokal tetap membayangi.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses