Menjadi Kartini Masa Kini; Muslimah Intelegensia Pelopor Emansipasi Perempuan
Oleh:
Siti Zulaeka, S.Pd
Guru SD Negeri Karanggintung 05 Gandrungmangu
Raden Ajeng Kartini merupakan keturunan priyayi yang darah juangnya sampai sekarang masih menjadi kiblat bagi perempuan khususnya di Indonesia. Jejak sejarah Kartini memberikan nafas segar untuk perempuan zaman sekarang, meski belum seutuhnya emansipasi perempuan diimplementasikan diberbagai daerah. Pada tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini sebagai bentuk simbolisnya ialah memakai kebaya atau adat Jawa sesuai dengan asal dari Raden Ajeng Kartini, namun tidak banyak yang mengetahui bahwa sebenarnya Kartini juga terlahir dari keluarga yang memiliki spiritual yang mumpuni. Lantas lahir dari mana ksatria muslimah itu?
Raden Ajeng Kartini atau R.A Kartini, adalah seorang perempuan asal Jepara yang lahir pada 21 April 1879. Kartini merupakan keturunan bangsawan, oleh karena itu gelar Raden Adjeng disematkan kepadanya. Kartini merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosoningrat dan M.A Ngasirah. Ayah Kartini adalah bupati Jepara saat itu. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara. Berbeda dengan kebanyakan anak pribumi saat itu, Kartini berkesempatan untuk sekolah di Europeesche Lagere School (ELS). Ini merupakan sekolah yang diperuntukkan bagi orang Belanda dan orang Jawa yang kaya. Di ELS, Kartini belajar bahasa Belanda.
Latar belakang Kartini sejak dari rahim ibunya ialah seorang muslimah, Nyai Ngasirah Ibu kandung Kartini ialah putri dari seorang guru agama Islam di Telukawur, Jepara yang sangat dihormati masyarakat. Kakek nenek Kartini yaitu Kyai Haji Modiono dan Nyai Haji Siti Aminah sudah pernah pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Hal ini jelas membuktikan bahwa keluarga Kartini dari pihak ibu merupakan seorang islami yang taat serta keluarga yang mampu walaupun tidak dari kalangan priyayi. Nyai Ngasirah dibesarkan dalam lingkungan taat beragama karena bapaknya seorang guru ngaji. Pendidikan agama dan tata krama jelas diajarkan dengan sebaik-baiknya oleh orang tuanya kepada Ngasirah. Nyai Ngasirah tentu sedikit banyak memiliki peran dalam mengajarkan agama Islam kepada putrinya Kartini, walaupun disisi lain Kartini juga belajaragama Islam dengan guru ngaji.
Dalam surat-surat yang dikirim kepada Stella sahabat Kartini memang tidak banyak yang membahas terkait dengan agama, sebab pada saat itu Kartini saja masih belum cukup hebat untuk mengajarkan agamanya sendiri kepada orang lain. Kartini merasa bahwa diri sendiri saja masih terbilang awam untuk berbicara tentang agama kepada orang berbeda agamanya. Kartini yang gelisah dalam memahami ajaran Islam pernah menulis dalam surat yang dikirimkan kepada sahabatnya Stella bahwa agama Islam yang Kartini peluk karena nenek moyangnya beragama Islam. Kartini juga membagikan sedikit pendapat tentang bagaimana Kartini mencintai agamanya namun, pada zaman Kartini belum dan atau tidak diperbolehkan adanya penerjemahan tafsir al-Qur’an, tidak ada yang tahu bahasa Arab. Hanya diajarkan membaca al-Qur’an tanpa mengetahui apa maknanya.
Kartini yang mempelajari ajaran Islam memahami bahwa Islam tidak membedakan perempuan dan laki-laki untuk menuntut ilmu. Agama Islam membedakan makhluk dari ketaqwaannya bukan melalui gender ataupun fisik. Kartini yang mengetahui pentingnya ilmu dapat memperjuangkan kaum perempuan untuk belajar agar terbebas dari kebodohan, Kartini mendirikan sekolah untuk memberikan pengajaran dan pendidikan. Kartini tidak menyetujui ajaran Islam sebagai tameng laki-lakiuntuk memuaskan nafsunya yang telah lama ada dalam adat istiadat Jawa. Ide Kartini dalam surat-suratnya bertujuan untuk memotivasi kaum perempuan Jawa dan muslimah untuk berjuang mendapatkan haknya dalam belajar dan mendapatkan ilmu agar terbebas dari keterpurukan peradaban melalui perempuan dengan menempuh pendidikan. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam bahwasanya Allah mengutus Rasul-Nya untuk membaca dan mengajarkan ajaran Islam sesuai al-Qur’an yang terdapat macam-macam ilmu pengetahuan dan hukum agar manusia keluar dari kegelapan kepada cahaya ilmu pengetahuan.
Membaca sejarah Kartini yang begitu lekat akan arti perjuangan terhadap kehidupan perempuan untuk selanjutnya, seharusnya tidak hanya menjadi sebuah narasi saja. Perempuan modern harus mampu mengambil ibrah dan merepresentasikan hasil juang Kartini pada masa kini. Surat-surat yang ditulis oleh RA Kartini merupakan dentuman besar pemikiran persamaan dan penghargaan terhadap seseorang karena intelektualitas dan karakter yang baik. Di negara Indonesia ini semua orang ingin merengkuh dua hal itu, intelek dan berkarakter yang baik. Kartini sangat meneggakan pendidikan dan sikap anti kekerasan. Perjuangan RA Kartini masih relevan sampai sekarang. Meski sudah berselang hampir seratus tahun lamanya, masih banyak isu-isu yang harus diperjuangan oleh perempuan masa kini. Bukan hanya tentang gosip-gosip kosong yang menjadi sajian hangat perempuan masa kini. Justru yang seharusnya dilakukan adalah perbincangan indanh untuk bagaimana perempuan agar tidak adanya kasus-kasus diskriminasi terhadap dirinya.
Islam sangat memuliakan seorang perempuan. kedudukan perempuan bukan menjadi nomor dua setelah laki-laki. Justru dalam islam perempuan dan laki-laki dihadapan Allah yaitu sama yang membedakan adalah taqwa definisi tersebut tercantum dalam ayat Al-Qur’an. Sejatinya agama hadir bukan untuk menjadi hambatan untuk melakukan perjuangan. Jangan sampai agama hanya menjadi sebuah petak umpet laki-laki agar dirinya menjadi nomor satu lantas dengan mudahnya bersikap tidak adil terhadap perempuan. Islam menyebut perempuan ialah muslimah. Kartini muslimah masa kini ialah seorang muslim yang dengan semangatnya memperjuangkan kesetaraan gender, pendidikan, serta kemajuan perempuan dengan tetap menjaga nilai-nilai islam dalam kehidupan sehari-hari.



