LAMPUNG SELATAN, medianasional.id – Kabupaten Lampung Selatan menyimpan kekayaan sejarah yang mendalam, salah satunya berada di Pekon Tuha (Kampung Tua) Marga Raja Basa, Kecamatan Raja Basa. Berdiri sejak sekitar abad ke-15 (tahun 1500 Masehi) seiring tegaknya Gunung Raja Basa, wilayah ini awalnya dipimpin oleh Sai Batin Marga Raja Basa pertama, Khatu Sugunda.
Kepemimpinan adat ini kemudian diteruskan secara turun-temurun kepada Silawat Agung I hingga memasuki abad ke-18 dan ke-19 di bawah kepemimpinan Silawat Agung II.
Pada masa kepemimpinan Silawat Agung II itulah kolonial Belanda mulai menginvasi wilayah Marga Raja Basa. Meski sempat dihantam bencana mahadahsyat letusan Gunung Krakatau dan tsunami pada tahun 1883, masyarakat Raja Basa tetap bertahan dan terus mengobarkan perlawanan sengit terhadap penjajah.
Demi melemahkan benteng pertahanan rakyat, kompeni Belanda gencar melancarkan berbagai tekanan dan intimidasi. Kondisi ini memaksa masyarakat yang semula bermukim di daerah perbukitan Pekon Tuha untuk turun dan berpindah ke wilayah pesisir pantai Raja Basa yang ditempati hingga saat ini.
Kini, Pekon Tuha telah menjadi kawasan cagar budaya tempat peristirahatan terakhir para leluhur dan Sai Batin Raja Basa. Di area ini, terdapat makam kramat Lunjuk yang merupakan makam puyang Singga Brata.
Tidak jauh dari lokasi tersebut, terdapat situs bersejarah Benteng Way Kawor. Nama benteng ini diambil dari keberadaan bambu Kawor di sekitarnya, yang konon memiliki kekuatan magis pertahanan tinggi sehingga tidak pernah bisa ditembus atau dijamah oleh pasukan Belanda.
Salah satu objek penting di benteng ini adalah Batu Hejongan. Menurut sejarah lokal, batu tersebut merupakan tempat bertapa atau tirakat bagi para punggawa zaman dahulu. Setelah menyelesaikan ritual pertapaan, para punggawa akan direndam di Sungai Way Kawor.
Jika dinyatakan lulus dari ujian spiritual tersebut, mereka baru secara sah menyandang gelar Punggawa Gemutokh Agung dan diizinkan maju ke medan pertempuran melawan penjajah Belanda.
Bukti otentik keberadaan peradaban dan pusat pertahanan masa lalu ini diperkuat dengan ditemukannya berbagai benda bersejarah di sekitar Pekon Tuha dan Benteng Way Kawor.
Tim di lapangan berhasil menemukan sejumlah artefak purbakala, pecahan keramik kuno, hingga mata uang kuno bertahun 1779 dari era kongsi dagang Hindia Belanda (VOC). Penemuan ini semakin menegaskan nilai historis strategis kawasan Marga Raja Basa dalam linimasa sejarah perjuangan kemerdekaan di tanah Lampung.






