Karya Raden Tumenggung Bimodipuro: Lukisan Hitam Putih Bertema Persatuan Jawa-Sunda Curi Perhatian

Brebes, Jawa Tengah384 Dilihat

Bumiayu-Brebes, medianasional.id | Sebuah karya lukisan bertema hitam putih hasil cipta seniman asal Bumiayu, Raden Tumenggung Bimodipuro, baru-baru ini menarik perhatian publik. Lukisan yang di pamerkan di Grand Dian Hotel Bumiayu ini, tidak hanya memukau secara visual, karya ini juga menyimpan pesan moral yang mendalam tentang sejarah, keberagaman, dan pentingnya persatuan dalam bingkai kebangsaan.

Karya tersebut lahir dari hasil perjalanan panjang sang seniman ke berbagai wilayah di Indonesia, di mana ia berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang budaya, suku, dan adat. Dari pengalaman itu, ia menemukan benang merah yang menjadi dasar dari ide besar lukisan ini, hubungan antara dua suku besar di Pulau Jawa – Sunda dan Jawa.

Dalam wawancaranya, Raden Tumenggung Bimodipuro menyebut bahwa inspirasi tersebut tidak bisa dilepaskan dari kisah sejarah yang dikenal sebagai “Perang Bubat”. Meskipun telah terjadi berabad-abad lalu, peristiwa ini masih menyisakan luka sejarah, terutama bagi sebagian masyarakat Sunda.

“Meski saya tidak mengalami langsung dan belum tentu tahu kebenaran persisnya, saya tahu ada banyak orang Sunda yang menyimpan rasa sakit karena kisah Bubat. Tapi, banyak juga yang sudah move on dan menganggap itu masa lalu. Bahkan sebagian besar ulama di Jawa Barat mengatakan, “lamon bisa teh… Jawa Barat, Jawa Tengah jeung Jawa Timur, ulah di belah-belah nu hijikeun bae,” (kalau bisa Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur jangan di belah-belah jadi satu saja-red),”ungkapnya, menyatir harapan ulama untuk tidak memecah belah persaudaraan antar daerah di Pulau Jawa.

Karya ini, lanjutnya, bukanlah upaya menggali luka lama, melainkan refleksi bahwa sejarah harus dijadikan pelajaran untuk memperkuat persatuan. Ia pun menegaskan bahwa perbedaan suku tidak boleh menjadi pemisah, tetapi harus dilihat sebagai kekayaan bangsa, sesuai dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Menariknya, lukisan ini disajikan dalam nuansa hitam putih, tanpa warna lain. Pilihan artistik ini dipilih sebagai simbol ketidakberpihakan. Warna-warna yang biasa menjadi identitas dan simbolik budaya sengaja dihilangkan untuk menyampaikan pesan universal, kita semua satu, tanpa batas.

Secara konseptual, karya ini juga merujuk pada teori geologi mengenai asal-usul Pulau Jawa. Dalam catatan ilmiah, daratan Jawa Barat merupakan wilayah tertua yang muncul akibat tumbukan lempeng Indo-Australia dan Eurasia jutaan tahun silam. Proses geologis ini yang kemudian membentuk keseluruhan Pulau Jawa hingga ke bagian timur.

“Lukisan ini bukan hanya tentang sejarah dan geologi, tapi juga tentang manusia yang hidup di dalamnya. Ia bercerita tentang kita, tentang Indonesia yang satu,” pungkas sang seniman.

Dengan pesan moral yang kuat dan pendekatan visual yang berbeda, karya Raden Tumenggung Bimodipuro ini berhasil menjadi lebih dari sekadar karya seni. Ia menjadi medium dialog, penyambung masa lalu dan masa depan, serta peneguh semangat persatuan di tengah keberagaman bangsa.

Filosofi Simbolik di Balik Lukisan

Karya ini menyuguhkan simbol-simbol kebudayaan yang kaya makna. Dalam visualnya, tampak sosok anak muda (Si Mas) yang memainkan wayang Semar, serta sosok orang tua (Si Mbah) yang memainkan wayang golek Cepot. Semar mewakili nilai-nilai kejawaan, sementara Cepot hadir dengan nuansa budaya Sunda.

Namun, pesan yang ingin disampaikan bukanlah soal tua dan muda, melainkan tentang bagaimana dua generasi dan dua budaya bisa saling memahami dan menghormati. “Usia bisa tua, tapi jiwanya tetap muda. Dan usia muda belum tentu kekanak-kanakan,” ujar sang seniman, menjelaskan bahwa konflik kerap muncul karena masing-masing pihak merasa lebih dahulu, lebih tua, atau lebih berhak.

Kedua tokoh dalam lukisan itu digambarkan sedang bersalaman, simbol rekonsiliasi dan penghormatan terhadap perbedaan, sebagaimana pepatah, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.

Mereka duduk di atas dipan bambu—simbol kesederhanaan dan filosofi bahwa kemewahan tidak harus ditampilkan secara mencolok. Sederhana tetap bisa elegan. Ekspresi wajah keduanya tampak ceria dan bersahabat, menyiratkan keharmonisan dan keramahan yang menjadi perekat kuat dalam hubungan sosial.

Warna Hitam Putih, Pesan Kuat Tanpa Berpihak

Pilihan artistik hitam putih menjadi ciri khas utama lukisan ini. Tanpa warna-warna lain, karya ini menyampaikan pesan universal bahwa keindahan dan makna bisa hadir tanpa keberpihakan terhadap identitas tertentu. Ini adalah cara sang seniman menyuarakan netralitas dan harapan atas kesatuan yang tidak dibatasi oleh warna, budaya, maupun suku.

Secara konseptual, karya ini juga merujuk pada asal-usul geologis Pulau Jawa, di mana wilayah baratnya  Jawa Barat merupakan bagian tertua dari proses pembentukan pulau akibat tumbukan lempeng jutaan tahun silam. Dalam lukisan ini, sejarah bumi dan manusia disatukan dalam satu narasi utuh tentang kebersamaan dan keberlangsungan hidup bersama.

“Lukisan ini bukan hanya tentang sejarah dan geologi, tapi juga tentang manusia yang hidup di dalamnya. Ia bercerita tentang kita, tentang Indonesia yang satu,” pungkas Raden Tumenggung.

Dengan kekuatan visual dan kedalaman filosofi yang diusung, karya ini berhasil menjadi lebih dari sekadar lukisan. Ia menjadi ruang kontemplasi dan dialog budaya, jembatan antara masa lalu dan masa depan, sekaligus penegas bahwa dalam keberagaman, Indonesia tetap satu.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses