Pasuruan, medianaional.id – Kehadiran guru di dalam kelas hendaknya total jiwa raga agar berdampak maksimal bagi siswa, serta bernilai ibadah bagi guru. Setidaknya ada tiga kehadiran yang harus dipertunjukkan, dan itu sekaligus menjadi indikator kesuksesan seorang guru.
“Pertama, kehadirannya diharapkan. Kedua, kehadirannya menyenangkan. Ketiga, kehadirannya membawa manfaat,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kabupaten Pasuruan, Hasbullah. M.Pd, saat memberi pengarahan dalam workshop Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) bagi guru sekolah dasar negeri dan swasta Kecamatan Pandaan. Acara yang berlangsung di aula SD Maarif Jogosari Pandaan itu diikuti 60 guru kelas II dan 60 guru kelas V.
Kadisdikbud Hasbullah kemudian mencontohkan, apabila ada seorang guru tidak masuk sehari saja, siswanya sudah bertanya: “Bapak kemarin tidak masuk, kemana?”. Ketika dijawab Pak Guru sakit, siswa spontan menjawab, “jangan sakit-sakit Pak, saya doakan sehat terus.” Ini pertanda nyata bahwa siswa benar-benar mengharapkan kehadiran guru yang bersangkutan.
Dengan demikian guru hendaknya menjadi figur yang diharap kehadirannya karena memang menyenangkan saat proses belajar dan mengajar berlangsung. Pelajarannya yang disampaikan juga benar-benar bermanfaat bagi siswanya. Itu intinya.
Workshop IKM bagi Guru SD Negeri dan Swasta Kelas II dan V se-Kec. Pandaan.
Salah satu ciri IKM adalah penerapan pembelajaran diferensiasi. Yaitu layanan belajar mengajar yang memberi perhatian kepada keberagaman karakteristis serta tingkat kecerdasan siswa yang berbeda-beda. Kadisdik pun memberikan ilustrasi berdasar pengalaman praktis.
Pada pelajaran Matematika topik penjumlahan bilangan untuk anak SD hendaknya disertai contoh yang konkret. Bilangan plus artinya punya uang, sedang bilangan minus berarti utang. “Punya uang 5 ditambah punya uang lagi 3 maka jumlahnya berapa? Punya uang 10 lalu diutang 5, tinggal berapa?,” kata Kadis memberi contoh.
“Pengelompokan inilah yang dijadikan data dasar mengajar. Anak pandai diberi soal tambahan yang lebih sulit. Anak normal diberi soal standar, dan anak kelompok lambat diberi soal yang mudah. Nanti, kelompok anak pandai terus dipacu, silakan diberi materi pelajaran kakak-kakak kelasnya. Kalau ada lomba olimpiade matematika, ya anak-anak ini yang ditampilkan, pasti hasilnya bagus,” begitulah Kadisdikbud telah menjelaskan praktik pembelajaran diferensiasi sebagaimana yang dikehendaki Kurikulum Merdeka.






