BEKASI, medianasional.id – Sebuah rekaman video yang viral di jagat maya menyisakan pilu sekaligus tamparan keras bagi tatanan sosial masyarakat. Briptu AA, anggota Sabhara Polres Metro Bekasi, ditemukan terkapar bersimbah darah di pinggir jalan usai menjadi korban keganasan kawanan begal dalam perjalanan pulang selepas tugas.
.
Namun, bukan aksi heroik warga yang terekam, melainkan sebuah pemandangan menyesakkan: kerumunan yang hanya menonton saat korban berteriak meminta pertolongan.
.
Kekecewaan mendalam menyelimuti pihak keluarga dan korps kepolisian. Rasa kemanusiaan seolah luntur di lokasi kejadian. Meski nyawa Briptu AA berada di ujung tanduk akibat luka bacok, tak ada satu pun tangan yang sigap merangkulnya. Ketakutan akan risiko hukum seperti kekhawatiran dijadikan tersangka, hingga kebingungan menghadapi situasi darurat, diduga menjadi penghalang warga untuk bertindak.
.
“Kekecewaan ini bukan hanya milik keluarga, tapi juga kami di kepolisian. Ini cermin rapuhnya empati kita saat ini,” ungkap salah satu rekan korban.
.
Peristiwa ini menjadi refleksi pahit bagi publik. Fenomena “penonton di tengah tragedi” ini menunjukkan bahwa rasa aman di masyarakat kian rapuh, di mana ketakutan terhadap prosedur hukum dan keselamatan pribadi sering kali mengalahkan naluri menolong sesama. Tragedi Briptu AA bukan sekadar kasus kriminalitas jalanan, melainkan potret memudar kepedulian sosial yang menuntut perhatian serius dari kita semua.






