KENDAL– medianasional.id- Harga bawang merah di tingkat petani di Kabupaten Kendal mengalami penurunan tajam menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 H. Kondisi ini membuat petani terpukul karena nilai jual hasil panen merosot jauh dari harga normal.
Di sejumlah sentra produksi bawang merah, satu siring lahan sekitar 1.785 meter persegi yang biasanya mampu menghasilkan hingga Rp30 juta kini hanya dihargai sekitar Rp12 juta. Penurunan harga tersebut terjadi hampir merata di berbagai wilayah, termasuk di Desa Kedunggading, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal.
Petani setempat, Suwanto (56), mengaku kondisi tersebut sangat memberatkan. Menurutnya, biaya produksi yang tinggi tidak sebanding dengan harga jual bawang merah saat ini.
“Biasanya satu siring bisa sampai Rp30 juta, sekarang hanya Rp12 juta. Jelas merugi. Biaya pupuk, obat, dan tenaga kerja tetap tinggi,” ujar Suwanto, Selasa (25/3/2026).
Ia menjelaskan, anjloknya harga bawang merah dipicu oleh panen raya yang terjadi secara bersamaan di berbagai daerah. Melimpahnya pasokan di pasar membuat harga komoditas tersebut jatuh drastis di tingkat petani.
Untuk menyiasati kerugian, para petani mengambil langkah alternatif dengan menjual sebagian hasil panen dan menyimpan sisanya sebagai bibit untuk musim tanam berikutnya.
“Kami jual sebagian saja untuk kebutuhan, sisanya kami bawa pulang untuk bibit. Kalau semua dijual, nanti malah harus beli lagi,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Muqodim (58), petani bawang merah lainnya di wilayah tersebut. Ia mengaku hasil panennya juga terdampak oleh anjloknya harga di pasaran.
“Kondisinya sama, harga turun jauh. Mau tidak mau kami juga harus menjual sebagian hasil panen, sementara sisanya disimpan untuk bibit,” kata Muqodim.
Para petani berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga bawang merah serta memperbaiki sistem distribusi hasil panen. Jika kondisi ini terus berlanjut, mereka khawatir akan mengurangi produksi pada musim tanam berikutnya.(*)




