Delegasi Internasional JIKF 2026 Belajar Membuat Bakpia, Kenali Budaya Yogyakarta dari Dapur Produksi

DI.Yogyakarta1582 Dilihat

Yogyakarta, -medianasional.id- Puluhan delegasi mancanegara peserta Road to Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 mendapat pengalaman berbeda dengan belajar membuat bakpia sekaligus mengenal sejarah kuliner khas Yogyakarta di sentra produksi Bakpia Pathok 25, Ngampilan, Kota Yogyakarta, Selasa (7/7/2026).

Kegiatan yang diprakarsai Komunitas Angkasa 1 selaku penyelenggara JIKF 2026 itu diikuti peserta dari berbagai negara, di antaranya India, Vietnam, Tiongkok, Lithuania, Amerika Serikat, Haiti, Brasil, Lebanon, Jerman, Tunisia, Malaysia, dan sejumlah negara lainnya.

Tidak sekadar berkunjung, para delegasi diajak menyaksikan secara langsung proses pembuatan bakpia, mulai dari pencampuran adonan, pengisian aneka varian rasa, pencetakan, hingga proses pemanggangan. Mereka juga mencicipi bakpia yang baru matang serta berdialog dengan para pekerja mengenai sejarah dan perkembangan bakpia sebagai salah satu kuliner khas Yogyakarta.

Perwakilan Bakpia Pathok 25, Amel, mengatakan pihaknya menyambut baik kolaborasi tersebut karena menjadi media untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.

“Bakpia bukan sekadar oleh-oleh khas Yogyakarta, tetapi juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Kami berharap melalui kunjungan ini semakin banyak masyarakat dunia yang mengenal bakpia dan budaya Yogyakarta,” katanya.

Menurut Amel, para delegasi menunjukkan antusiasme tinggi selama mengikuti kegiatan. Mereka aktif mendokumentasikan proses produksi, mengajukan berbagai pertanyaan, hingga mencicipi beberapa varian bakpia.

Delegasi asal India, Kamal Prakash, mengaku terkesan dengan proses produksi makanan tradisional Indonesia yang dinilainya bersih dan profesional.

“Ini pengalaman pertama saya melihat langsung bagaimana makanan tradisional Indonesia dibuat. Semua prosesnya sangat bersih dan saya menikmati pengalaman ini. Saya juga sudah mencoba berbagai makanan Indonesia dan semuanya sangat lezat,” ujarnya.

Kamal menilai JIKF memiliki keunikan karena tidak hanya menyuguhkan festival layang-layang, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenal budaya, kuliner, dan kehidupan masyarakat Yogyakarta.

Sementara itu, delegasi lainnya, Dilshad, mengapresiasi keramahan masyarakat Indonesia selama mengikuti rangkaian Road to JIKF 2026.

“Masyarakat Indonesia sangat ramah. Lingkungannya bersih, tertata, dan semua orang menyambut kami dengan hangat. Itu menjadi pengalaman yang tidak akan kami lupakan,” katanya.

Ketua Komunitas Angkasa 1 sekaligus penyelenggara JIKF 2026, Anang Sarijiyanto, mengatakan kegiatan budaya seperti ini menjadi bagian penting dari rangkaian Road to JIKF. Menurutnya, festival bertaraf internasional tidak hanya menjadi ajang kompetisi layang-layang, tetapi juga sarana memperkenalkan identitas Yogyakarta kepada dunia.

Melalui kunjungan ke sentra UMKM, desa wisata, lokasi pelestarian lingkungan, hingga pertunjukan budaya, para delegasi diharapkan memperoleh pengalaman yang lebih utuh tentang Yogyakarta. Selain mendukung promosi pariwisata, kegiatan tersebut juga membuka peluang promosi produk UMKM lokal di pasar internasional.

Road to JIKF 2026 menjadi bagian dari upaya membangun diplomasi budaya melalui pengalaman langsung. Dengan melibatkan peserta dari berbagai negara, penyelenggara berharap Jogja International Kite Festival tidak hanya dikenal sebagai festival layang-layang internasional, tetapi juga menjadi jembatan promosi budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM Yogyakarta ke tingkat global. (Wid).

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses