Bantul, medianasional.id – Upaya peningkatan mutu pendidikan kembali menjadi sorotan dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kemitraan Akselerasi Inovasi dan Fasilitasi Penjaminan Mutu Pendidikan yang digelar BPMP DIY di Hotel Grand Rohan, Rabu (26/11).
Dalam kesempatan itu, narasumber Dodi Arianto memaparkan hasil pemantauan dan pendampingan sistem penjaminan mutu pendidikan (SPMP) di berbagai jenjang, mulai dari PAUD formal, PAUD nonformal, Dikmas, SD, SMP, hingga SMA.
Menurut Dodi, pemantauan dilakukan dengan mengukur empat aspek utama: Quality Awareness (kesadaran mutu), Quality Assurance (penjaminan mutu), Quality Control (pengendalian mutu), dan Quality Improvement (peningkatan mutu).” Keempat aspek ini menjadi fondasi penting untuk memastikan satuan pendidikan tidak hanya memahami pentingnya mutu, tetapi juga mampu menjamin, mengendalikan, dan terus meningkatkannya,” jelasnya.
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa kesadaran mutu di sebagian besar satuan pendidikan sudah mulai tumbuh, namun masih ada tantangan dalam mengoptimalkan instrumen yang tersedia, seperti Rapor Pendidikan. Banyak sekolah belum sepenuhnya mampu menganalisis data mutu secara mendalam untuk dijadikan dasar perencanaan program.” Rapor Pendidikan seharusnya menjadi sarana penting untuk membaca kondisi sekolah, bukan sekadar laporan administratif,” tegas Dodi.
Pada aspek penjaminan mutu, BPMP DIY menemukan bahwa sebagian sekolah sudah memiliki sistem internal, tetapi implementasinya belum konsisten. Pendampingan diperlukan agar sekolah mampu menyusun dokumen perencanaan jangka menengah yang realistis dan berbasis data. Sementara itu, pada aspek pengendalian mutu, masih ada kesenjangan dalam monitoring dan evaluasi program yang dijalankan.
Adapun pada aspek peningkatan mutu, Dodi menekankan perlunya inovasi yang kontekstual dan sederhana, namun berdampak langsung pada peserta didik. Praktik baik yang sudah muncul di beberapa sekolah ditampilkan sebagai contoh agar bisa direplikasi di satuan pendidikan lain.” Kita perlu memantik aksi nyata, bukan hanya berhenti pada dokumen. Praktik baik harus menjadi inspirasi bersama,” ujarnya.
Ketua Panitia, Basri Hananta, dalam laporannya menjelaskan bahwa kegiatan ini diikuti 63 peserta dari berbagai unsur, meliputi pengawas sekolah, penilik, kepala SKB, forum PKBM, organisasi mitra seperti IGTKI dan Himpaudi, serta tim internal BPMP DIY.
Kegiatan berlangsung sehari penuh dengan materi kebijakan BPMP DIY, peta mutu pendidikan di DIY, strategi membangun jejaring inovasi, hingga berbagi praktik baik dari kepala sekolah.
Kegiatan ini dibuka oleh Yetti Pudyantari, Ketua Tim Kerja Program Prioritas BPMP DIY, mewakili Kepala BPMP DIY. Dalam sambutannya, Yetti menegaskan bahwa penjaminan mutu pendidikan merupakan core business BPMP DIY.” Kegiatan ini sebagai bentuk kolaborasi dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua,” ujarnya.
Yetti menekankan pentingnya pemanfaatan Rapor Pendidikan sebagai instrumen strategis untuk meningkatkan mutu.” Meski belum semua satuan pendidikan mampu mengoptimalkan rapor tersebut, bimtek ini diharapkan menjadi sarana untuk mendorong sekolah lebih berkualitas dan berbasis data dalam menyusun program peningkatan mutu, tandasnya.
Kegiatan ini juga menyoroti pentingnya jejaring kemitraan antar sekolah, pengawas, dan pemerintah daerah. Dengan kolaborasi, diharapkan mutu pendidikan di DIY dapat meningkat secara merata. Diskusi kelompok yang digelar di akhir sesi menjadi wadah bagi peserta untuk merumuskan tindak lanjut, termasuk strategi memperkuat budaya mutu di satuan pendidikan masing-masing.
(Wid)






