Darwin,Australia. medianasional. I’d.
Warisan luhur Batik Rifaiyah asal Kabupaten Batang kembali menorehkan prestasi di kancah internasional. Dua perempuan perajin sekaligus penjaga budaya ini, Tri Handayani Mulyati dan Nandiroh, memenuhi undangan kehormatan untuk memamerkan dan berbagi ilmu tentang Batik Rifaiyah di Darwin, Australia, pada 16–28 Agustus 2026.
Kehadiran mereka menjadi momentum penting dalam memperkenalkan kekayaan seni tradisional Indonesia ke dunia.
Tidak sekadar membawa lembaran kain, keduanya juga membawa kisah, nilai filosofi hidup, dan warisan spiritual yang tertuang dalam setiap goresan canting masyarakat Rifaiyah.
Tri Handayani Mulyati, perajin asal Gang Randu, Watesalit, mengungkapkan bahwa karya-karya yang dibawa merupakan representasi dari keindahan seni Kabupaten Batang.
“Kami memperkenalkan keunikan motif, ragam hias, hingga kerumitan proses pembuatannya kepada masyarakat Australia,” tutur Tri Handayani saat dihubungi pada Sabtu (5/9/2026).
Selain menggelar pameran, Tri Handayani dan Nandiroh juga menjadi pemandu dalam lokakarya (workshop) membatik.
Para peserta asal Australia diajak menyelami proses pembuatan batik secara langsung, mulai dari mengenali makna motif hingga teknik menggunakan malam dan canting.
Bagi mereka, kegiatan ini adalah jembatan budaya yang mempererat hubungan Indonesia dan Australia melalui karya seni.Batik Rifaiyah memang istimewa.
Keindahannya tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga sarat akan nilai sejarah dan pesan moral yang mendalam. Warisan inilah yang terus dijaga agar tidak punah dan dapat diwariskan ke generasi masa depan.
Apresiasi dari masyarakat Darwin ini membuktikan bahwa budaya lokal memiliki daya pikat universal. Dari sebuah tradisi yang tumbuh subur di pelosok Batang, Batik Rifaiyah kini melangkah anggun di panggung dunia.
Perjalanan dari Batang menuju Darwin ini menjadi bukti nyata bahwa warisan budaya yang dirawat dengan ketulusan akan selalu mampu melintasi batas negara dan menyentuh hati masyarakat global.






