Antisipasi Darurat Sampah dan TPA Penuh, DLH Kotabaru Gencarkan Program “BAPILAH”

Kalimantan Selatan1459 Dilihat
KOTABARU, medianasional.id – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotabaru resmi meluncurkan program sosialisasi “BAPILAH” (Biasakan Pilah Sampah) yang menyasar generasi muda di SMPN 1 Kotabaru pada Selasa (4/8). Langkah strategis ini diambil sebagai respons cepat pasca-terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) mengenai kewajiban memilah sampah yang berlaku secara nasional per 1 Agustus 2026.
.
Berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang langsung menerapkan aturan tersebut bulan ini, Kabupaten Kotabaru diberikan tenggat waktu penyesuaian hingga 1 Januari 2027 melalui Surat Edaran (SE) Bupati Nomor 645. Penundaan ini disebabkan oleh karakteristik geografis Kotabaru yang unik dan menantang.
.
“Luas wilayah Kotabaru mencapai 9.500 kilometer persegi atau sepertiga dari Provinsi Kalimantan Selatan, dengan populasi 350.000 jiwa dan volume sampah mencapai 130 ton per hari. Kondisi geografis kita kepulauan yang terpecah-pecah. Untuk menjangkau kecamatan-kecamatan, tim kami harus menggunakan kapal perintis dan speedboat. Karena itu, kami butuh waktu sosialisasi yang lebih masif,” ujar Kepala DLH Kotabaru, Hj. Melinda Ratna Agustina.
.
Kondisi Kritis TPA Sungut
Urgensi pemilahan sampah ini kian mendesak mengingat Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPA) Sungut diprediksi akan mengalami kelebihan kapasitas (overload) dalam waktu satu tahun ke depan. Meski saat ini telah menggunakan metode controlled landfill, gunungan sampah baru yang masuk setiap hari sudah tidak mungkin lagi tertampung dalam jangka panjang.
.
Sebagai langkah tegas penegakan hukum di masa depan, Pemerintah Kabupaten Kotabaru berencana mengeluarkan regulasi baru terkait sanksi bagi pelanggar aturan pembuangan sampah yang akan mulai diberlakukan pada Januari 2027 mendatang.
.
Seruan Aksi Mitigasi Perubahan Iklim
Hj. Melinda juga mengingatkan bahwa persoalan sampah bukan lagi sekadar masalah lokal, melainkan sudah menjadi status darurat nasional yang berdampak langsung pada perubahan iklim global. Gas metana yang dihasilkan dari TPA yang tidak terkelola menjadi salah satu pemicu utama emisi gas rumah kaca, yang belakangan ini memicu fenomena cuaca ekstrem seperti Godzilla El Nino yang kerap digaungkan oleh BMKG.
.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat Kotabaru untuk mulai peduli dan bekerja sama. Formula terbaik penanganan sampah harus dimulai dari hulu, yaitu dari dapur rumah kita sendiri. Cukup siapkan wadah terpisah; gunakan ember bekas atau plastik untuk mengompos sampah organik, lalu tempatkan sampah non-organik ke TPS resmi yang telah ditentukan DLH,” pungkasnya.
.
Melalui program BAPILAH ini, DLH Kotabaru berharap tercipta budaya baru dalam pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan demi menyelamatkan masa depan daerah dari ancaman krisis sampah.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses