Warga Brebes Protes, Ribuan KK Kehilangan Air Bersih Lebih dari 2 Pekan, Dana Kompensasi Jadi Sorotan

Brebes, Jawa Tengah717 Dilihat

Brebes, medianasional.id – Krisis air bersih yang melanda Desa Dawuhan, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes tak kunjung menemukan titik terang, hingga memicu aksi protes puluhan warga pada Senin (2/3/2026).

Terorganisir dalam Aliansi Masyarakat Dawuhan (AMD), mereka mendatangi Balai Desa untuk menuntut kejelasan dan langkah nyata pemerintah desa atas terputusnya akses air bersih bagi 2.492 kepala keluarga. Audiensi terbuka tersebut dikawal unsur Forkopimcam, dengan kehadiran Camat Sirampog Slamet Budi Raharjo, Kapolsek Sirampog Iptu Imam Santoso, dan Danramil Sirampog Letda Wahyu Fajar yang menyaksikan dialog panas namun tetap tertib.

Masalah bermula dari banjir bandang dan longsor pada 23 Januari 2026 yang merusak total jaringan pipa utama dari sumber mata air Tuk Suci di lereng Gunung Slamet. Pipa galvanis berdiameter 8 inci sepanjang 2,5 kilometer – yang menjadi tulang punggung distribusi air desa – hancur dan sebagian terseret arus, membuat ribuan warga kehilangan akses air bersih selama lebih dari dua pekan.

Ketua AMD, Eko Budi, menjelaskan bahwa keluhan warga sudah disampaikan berulang kali sejak awal Februari, namun tak mendapatkan tanggapan yang memuaskan. “Kita bukan hanya protes sekarang. Sejak seminggu setelah kerusakan, kita sudah mengajukan usulan perbaikan, tapi hanya diberitahu menunggu alokasi anggaran,” ujarnya saat ditemui usai audiensi.

Sorotan tajam kemudian mengarah pada pengelolaan dana kompensasi dari Perusahaan Daerah Air Bersih (PDAB) Kabupaten Brebes yang selama ini diterima desa. Warga mempertanyakan alokasi anggaran yang dinilai belum mampu mengantisipasi kerusakan jaringan vital.

Ismail Saleh, salah satu warga yang juga anggota AMD, mengungkapkan kekhawatirannya terkait transparansi penggunaan dana. “Ke mana saja transparansi dana kompensasi itu? Setahun terakhir desa menerima ratusan juta rupiah dari PDAB untuk pemeliharaan jaringan. Kenapa saat krisis seperti ini desa masih meminta swadaya Rp500 ribu per kepala keluarga?” tanyanya dengan nada menegaskan.

Ia juga menambahkan kondisi yang semakin memprihatinkan di lapangan. “Beberapa keluarga sudah mengalami gangguan pencernaan karena terpaksa menggunakan air sungai yang keruh. Kita khawatir ini akan menjadi masalah kesehatan yang lebih besar jika tak segera ditangani,” imbuh Ismail.

Camat Sirampog Slamet Budi Raharjo  yang turut hadir memberikan tanggapan langsung terkait kasus ini. “Kami sudah memanggil pihak PDAB dan pemerintah desa untuk membahas solusi jangka pendek dan panjang. Untuk sementara, kita akan koordinasi dengan dinas kesehatan untuk memastikan keamanan air yang digunakan warga,” ujarnya.

Menurut Camat, pihaknya akan melakukan audit terhadap penggunaan dana kompensasi yang diterima desa. “Kita tidak akan mentolerir jika ada penyalahgunaan anggaran yang seharusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat,” tegas Slamet.

” Kepala Desa Dawuhan, Iwan Budi S. SPd, akhirnya memberikan penjelasan terkait permasalahan yang terjadi. “Kerusakan pipa lebih parah dari perkiraan awal, sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dana kompensasi yang diterima sebelumnya sebagian besar digunakan untuk perbaikan titik-titik kerusakan kecil dan pemeliharaan rutin,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pihak desa sedang mengajukan bantuan darurat ke pemerintah kabupaten dan akan segera membentuk tim untuk melakukan audit penggunaan anggaran secara terbuka bersama warga.

Kini sebagian warga terpaksa mengandalkan air hujan yang ditampung di ember dan toren sementara, sementara yang lain harus menempuh jarak hingga 3 kilometer untuk mengambil air dari sumur yang dinilai aman di wilayah Kaligiri”, Pungkasnya (Andi)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses