Yogyakarta, medianasional.id –
Kajian Ramadhan Masjid Ar-Rahman BPMP DIY pada Rabu (11/3/2027) menghadirkan narasumber Ustadz Sahman, Lc, MA, Wakil Direktur Muhammadiyah Boarding School (MBS) Prambanan yang menyampaikan materi tentang keutamaan meningkatkan kualitas ibadah pada sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan.
Dalam kajian tersebut,Ustadz Sahman Lc, MA menyampaikan bahwa fase akhir Ramadhan sejatinya merupakan momentum paling penting bagi seorang muslim untuk meningkatkan kesungguhan dalam beribadah.
Namun dalam realitasnya, sepuluh hari terakhir Ramadhan justru sering diwarnai berbagai distraksi yang mengganggu kekhusyukan ibadah. Banyak orang mulai disibukkan dengan persiapan mudik, membuat kue lebaran, hingga berbelanja pakaian dan berbagai kebutuhan menyambut Hari Raya Idul Fitri. Aktivitas tersebut memang tidak sepenuhnya salah, tetapi jika tidak dikelola dengan baik dapat menggeser fokus utama Ramadhan, yaitu meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT, jelasnya.
Padahal, Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat jelas bahwa grafik ibadah beliau justru semakin meningkat menjelang akhir Ramadhan. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir, Rasulullah mengencangkan ikat pinggang”. Ungkapan ini dimaknai sebagai kesungguhan beliau dalam beribadah, menjauhkan diri dari berbagai kesibukan duniawi, serta lebih banyak berdiam di masjid untuk beriktikaf.
Iktikaf merupakan salah satu amalan utama pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Sejak hijrah ke Madinah hingga wafatnya, Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan iktikaf pada fase akhir Ramadhan. Bahkan setelah beliau wafat, para istri Nabi tetap melanjutkan tradisi iktikaf tersebut. Pada masa Rasulullah, di masjid bahkan disediakan tenda khusus bagi perempuan agar mereka dapat melaksanakan iktikaf dengan tetap terjaga privasi dan kehormatannya.
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa setiap muslim dapat menyesuaikan bentuk iktikaf sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sahman menjelaskan bahwa terdapat empat level dalam pelaksanaan iktikaf.
Level pertama adalah menghidupkan malam secara penuh, yaitu sejak waktu magrib hingga subuh berada di masjid untuk melaksanakan berbagai ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur’ an, zikir, dan doa.
Level kedua adalah melaksanakan iktikaf pada awal dan akhir malam. Misalnya mengikuti shalat Isya dan tarawih di masjid, kemudian pulang untuk beristirahat, lalu kembali lagi ke masjid menjelang waktu subuh untuk menambah ibadah.
Level ketiga adalah menghidupkan malam hanya pada sepertiga malam terakhir. Pada waktu ini seorang muslim datang ke masjid untuk memperbanyak ibadah hingga waktu subuh.
Adapun level keempat adalah menghidupkan malam pada awal saja, misalnya mengikuti shalat tarawih di masjid kemudian pulang, lalu kembali lagi ke masjid saat waktu subuh.
Bagi perempuan yang sedang berhalangan (haidh), kesempatan untuk meraih keutamaan malam Lailatul Qadar tetap terbuka. Mereka memang tidak dapat melaksanakan shalat, tetapi masih dapat memperbanyak zikir, doa, dan membaca Al-Qur’ an dengan syarat tidak menyentuh mushaf secara langsung.
Rasulullah SAW juga memberi teladan untuk mengajak keluarga menghidupkan malam pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk melibatkan anggota keluarga dalam ibadah malam, termasuk beriktikaf di masjid sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.
Sepuluh malam terakhir Ramadhan memiliki keistimewaan karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Namun keutamaan tersebut tidak boleh dipahami secara serampangan. Dalam kaidah usul figh juga dijelaskan bahwa pada waktu-waktu yang dimuliakan, pahala kebaikan dilipatgandakan, tetapi demikian pula dengan dosa jika seseorang melakukan kemaksiatan.
Adapun mengenai waktu turunnya Lailatul Qadar, secara umum disebutkan berada di antara sepuluh malam terakhir Ramadhan.(Wid)






