Tradisi Pembukaan Kyai Cupu Panjolo Kembali Digelar di Gunungkidul, Beragam Simbol Terungkap

DI.Yogyakarta55 Dilihat

GUNUNGKIDUL, medianasional.id – Tradisi adat pembukaan

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Kyai Cupu Panjolo kembali digelar di Padukuhan Mendak, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin malam (19/10/2026). Prosesi yang menjadi warisan leluhur masyarakat setempat tersebut mencapai puncaknya pada pukul 00.00 WIB, Selasa (20/10/2026).

Ritual tahunan ini menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah. Mereka datang untuk menyaksikan secara langsung prosesi pembukaan tiga cupu pusaka, yakni Kyai Semar Kinandu, Kyai Palang Kinantang, dan Kyai Kentiwiri.

Puncak prosesi ditandai dengan pembukaan kain singkep secara bertahap. Dari setiap lapisan kain yang dibuka, ditemukan berbagai gambar, bentuk, dan tanda yang kemudian dicatat sebagai bagian dari tradisi adat Kyai Cupu Panjolo.

Beragam simbol tersebut menjadi perhatian masyarakat karena dalam kepercayaan sebagian warga, hasil pembukaan cupu diyakini mengandung sasmita atau perlambang kehidupan pada tahun mendatang.

Beragam Simbol Terungkap dalam Prosesi

Berdasarkan catatan hasil prosesi yang disampaikan di lokasi, terdapat berbagai gambar dan tanda pada sejumlah lapisan kain pembungkus cupu. Berikut rincian simbol yang terungkap:

Sisi timur terdapat gambar Pulau Sulawesi.

Sisi barat daya terdapat gambar lima ekor ikan.

Sisi barat daya terdapat bercak merah yang mengering.

Sisi tenggara terdapat gambar pepohonan.

Sisi barat terdapat gambar perempuan berambut pendek.

Sisi timur terdapat gambar dua anak, satu kecil dan satu lebih besar, seperti kakak beradik yang sedang berlari.

Sisi barat terdapat gambar Semar.

Sisi barat daya terdapat gambar Garuda.

Sisi timur terdapat gambar perahu kecil.

Sisi selatan terdapat gambar rambut.

Sisi timur terdapat angka delapan.

Sisi barat laut terdapat gambar burung menghadap ke selatan.

Sisi timur terdapat gambar Semar, Petruk, dan Bagong.

Sisi barat terdapat gambar anjing laut.

Sisi barat laut terdapat gambar wayang Narada menghadap ke barat, sedangkan di sisi barat terdapat gambar tikus.

Sisi barat laut terdapat gambar anjing.

Sisi barat daya terdapat gambar wayang Burisrawa.

Sisi timur terdapat gambar bibir.

Sisi tenggara terdapat gambar isi cabai.

Sisi utara terdapat gambar mentok.

Sisi timur terdapat gambar gunung dengan bagian puncak berlubang.

Sisi selatan terdapat gambar perempuan menghadap ke timur.

Sisi barat terdapat gambar gajah.

Sisi timur laut terdapat gambar kepala kuda.

Sisi timur terdapat angka tiga.

Sisi utara terdapat gambar perempuan menghadap ke utara.

Pada bagian mori terakhir terdapat gambar ayam jantan dan ayam betina.

Selain gambar-gambar tersebut, ditemukan pula dua lembar kain mori yang terlihat lembap, mulai dari mori pertama hingga lembar terakhir, sementara lembar lainnya dalam kondisi kering.

Setelah prosesi pembukaan selesai, terdapat sejumlah catatan tambahan. Tutup peti pada sisi timur ditemukan berlubang. Ketika tutup dibuka, bunga-bunga di dalamnya terlihat gosong.

Sementara itu, posisi ketiga cupu juga menjadi bagian dari hasil pengamatan. Cupu Kyai Semar Kinandu dan Kyai Palang Kinantang tetap dalam posisi tegak, sedangkan Cupu Kentiwiri terlihat miring ke arah selatan dan timur.

Lurah Girisekar Berharap Masyarakat Mendapat Kebaikan

Lurah Girisekar, yang juga merupakan keturunan atau trah Kyai Cupu Panjolo, menyampaikan bahwa pihaknya tidak dapat menjelaskan secara terperinci arti dan makna setiap simbol yang muncul dalam prosesi tersebut.

Meski demikian, ia berharap berbagai simbol yang terungkap dapat menjadi pengingat sekaligus menyertai doa dan harapan masyarakat untuk kehidupan yang lebih baik pada tahun mendatang.

“Intinya, kami berharap ke depan selalu diberikan kelancaran dan hal-hal baik,” ungkapnya.

Menurut tradisi yang berkembang di masyarakat, hasil pembukaan cupu kerap menjadi bahan perbincangan dan penafsiran, terutama bagi warga yang masih memegang teguh nilai-nilai budaya Jawa.

Namun, setiap simbol yang ditemukan tetap merupakan bagian dari catatan prosesi adat. Penafsiran terhadap maknanya merupakan bagian dari keyakinan dan tradisi masyarakat, bukan kepastian mengenai peristiwa yang akan terjadi.

Menjaga Warisan Budaya Leluhur

Tradisi Kyai Cupu Panjolo bukan sekadar ritual adat, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang mengandung nilai sejarah, spiritualitas, dan kebersamaan masyarakat Gunungkidul.

Pelaksanaan tradisi secara turun-temurun menjadi bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus upaya menjaga identitas budaya Jawa agar tetap dikenal oleh generasi penerus.

Antusiasme masyarakat yang hadir setiap tahun menunjukkan bahwa tradisi ini masih memiliki tempat tersendiri di tengah kehidupan masyarakat. Selain menjadi momentum untuk menyaksikan prosesi adat, kegiatan tersebut juga mempertemukan warga dari berbagai daerah dalam suasana kebersamaan.

Melalui pelestarian tradisi Kyai Cupu Panjolo, masyarakat diharapkan dapat terus menjaga warisan leluhur dengan bijaksana, menghormati nilai-nilai budaya, serta menjadikan doa dan harapan akan kehidupan yang lebih baik sebagai bagian dari perjalanan bersama menuju masa depan. (Red).

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses